RAMADHAN BERKAH RAMADHAN BERHADIAH
Kisah ini berawal
ketika penulis (sebut saja Cak Moet) masih menjadi seorang “JAMESBON” alias
Penjaga Mesjid dan Kebon atau seorang marbot di Masjid salah satu perumahan di
Kota Malang. Selama kurang lebih lima belas tahun menjadi marbot, tentu saja
banyak sekali kisah-kisah yang Cak Moet alami. Mulai dari kisah lucu, kisah
mistis hingga kisah yang luar biasa yang kadang susah untuk diterima secara
logika. Namun tidak ada yang tidak mungkin, kalau Allah SWT yang berkehendak.
Disini, penulis akan menceritakan satu dari beberapa kisah luar biasa yang
dialami penulis ketika bulan ramadhan.
Tugas seorang marbot di
masjid memang terlihat biasa dan monoton. Seperti menyapu, mengepel,
membersihkan kamar mandi, menguras tempat cuci kaki hingga membetulkan pengeras
suara masjid. Namun ketika memasuki bulan suci Ramadan terutama sore hingga
malam hari. Tugas seorang marbot seakan-akan dua kali lipat dibandingkan dengan
bulan-bulan yang lain. Terlebih bila marbot tersebut hanya sendirian. Dari
persiapan menjelang berbuka puasa, seperti menata meja untuk tempat takjil,
mengajar mengaji di Taman Pendidikan al Qur’an (TPQ) dan mengatur serta
membagikan takjil untuk jama’ah dan santri.
Ketika waktu maghrib
tiba, Cak Moet pun mengumandangkan adzan dan minum air putih untuk membatalkan
puasa. Sementara diluar masjid, para musafir, sebagian warga dan santri TPQ
berbuka puasa. Ada saja ulah anak-anak ketika menikmati menu buka puasa, ada
yang lari-larian, bercanda dengan temannya dan menumpahkan minuman yang mereka
bawa. Sungguh seorang James Bon harus bekerja ekstra dari biasanya. Cak Moet
segera menyuruh salah satu santri untuk melafalkan iqamah dan Cak Moet berdiri
untuk menjadi seorang Imam.
Setelah salat maghrib, Cak
Moet berbuka sekedar saja untuk mengganjal perutnya agar tidak terlalu kosong,
kemudian ia lanjut membersihkan sisa-sisa makanan bekas anak-anak berbuka
puasa, menata karpet dan memasang satir/penutup jama’ah perempuan untuk persiapan
salat isya’ dan salat tarawih.
Selepas tarawih ia
kembali merapikan karpet dan menyapu sisa kotoran dari jama’ah ibu-ibu yang ke
masjid membawa anaknya yang masih kecil ikut serta. Kemudian ia ke kamar
menemui keluarganya sambil melanjutkan berbuka puasa, setelah itu ikut
bergabung bersama bapak-bapak yang tidak langsung pulang karena melanjutkan
tadarus al qur’an sampai jam sepuluh malam. Dan biasanya dilanjutkan ngobrol
asyik sambil menikmati segelas kopi hingga jam dua belas malam. Kemudian Cak Moet
membersihkan kotak/kardus sisa-sisa takjil untuk dibakar agar tidak ada anjing
yang datang untuk mencari sisa makanan di tempat sampah.
Masjid tempat Cak Moet
mengabdi berada di lingkungan perumahan ala Bali. Walaupun mayoritas
penduduknya Muslim, tapi ada juga yang beragama lain. Dan kebetulan juga ada
yang memelihara anjing. Surat edaran atau tata tertib dari perangkat Rukun
Warga (RW) sudah disepakati bersama tentang hewan peliharaan, tapi tetap saja
ada satu dua orang yang bersikap cuek dan masa bodoh dengan aturan tersebut.
Sehingga ketika sudah diatas jam sepuluh malam biasanya anjing-anjing ini
keluar mencari makanan dan sukanya mengurai tempat sampah warga. Selepas
membersihkan serambi dan halaman luar masjid, Cak Moet pun merebahkan diri
untuk beristirahat. Dan pada jam 3.15 pagi ia terbangun dengan suara alarm di
telepon genggamnya untuk segera membangunkan warga melalui pengeras suara di
masjid agar mereka tidak terlambat menyiapkan makan sahur.
Selanjutnya Cak Moet
pun membangunkan keluarganya untuk bersantap sahur bersama. Sepuluh menit
menjelang waktu salat subuh, Cak Moet menyalakan semua lampu penerangan masjid
dan pengeras suara. Untuk mengetahui waktu subuh tiba biasanya mendengarkan
siaran radio masjid Jami’ Kota Malang sebagai induk masjid-masjid yang ada di
Kota Malang. Dan azan subuh pun dikumandangkan sebagai pertanda bagi seorang
muslim yang melaksanakan puasa bahwa waktu untuk menahan diri dari makan, minum
dan segala hal yang membatalkan puasa telah dimulai dan bergegas mengambil air
wudhu untuk mendirikan salat subuh berjama’ah di masjid.
Selama ramadan diadakan
kuliah tujuh menit (kultum) di masjid untuk menambah wawasan tentang keagamaan
bagi jama’ah. Pemateri kultum tidak hanya dari ustadz saja tapi juga warga
perumahan sendiri yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Mulai dari ketua
RW, dosen dan bahkan seorang dokter. Para dokter biasanya memberi materi kultum
pada hari ahad pas ketika hari libur. Dan alhamdulillah antusias para jama’ah
yang hadir sangat luar biasa, mereka merespons secara positif. Ketika sesi
interaktif atau tanya jawab, banyak hal yang ditanyakan para jama’ah terkait
tips agar tetap sehat dan bugar, atau tentang beberapa resep obat agar puasa
tidak sampai mokel atau bolong. Dan kebanyakan para penanya memang bapak-ibu
yang sudah purna dan berusia diatas enam puluh tahun. Mereka adalah para
jama’ah yang aktif selama bulan ramadhan karena banyak waktu luang yang mereka
miliki, jadi sayang kalau ramadhan pergi tidak diisi dengan hal-hal yang
berarti.
Setelah kegiatan kultum
biasanya mereka melanjutkan tadarus al qur’an sambil menunggu waktu syuruq
atau isyraq dan melaksanakan salat dua raka’at sesuai dengan sunnah dan
janji nabi Muhammad saw : “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh
secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari
terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh
pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik)
kemudian pulang untuk memulai aktivitas atau beristirahat sejenak.
Cak Moet pun juga memutuskan untuk beristirahat agar nanti bisa
segar kembali dan semangat untuk menyiapkan ibadah salat dhuhur.
Selepas
shalat duhur, atas usulan dari bendahara masjid tadi malam, Cak Moet
diperintahkan untuk mengganti dan menambah lampu utama masjid agar lebih terang
dan jelas ketika kegiatan tadarus malam. Cak
Moet bergegas ke toko elektronik yang berada di pertigaan Dinoyo Kota Malang
untuk membeli beberapa lampu. Cak
Moet membeli lampu yang bermerk agar nyalanya lebih terang dan tahan lama. Dan
kemudian ia segera memasangnya di ruang utama masjid sesuai arahan dari
bendahara masjid. Dalam box/kardus lampu tersebut terdapat hadiah undian bagi
yang mengirimkan kardus bekas lampu ke tempat pembelian dengan syarat
menyertakan alamat lengkap dan nomor email. Dan iseng-iseng Cak Moet pun
mengisi data di bekas kardus tersebut dengan data lengkap yang diminta, tanpa berharap
akan menjadi pemenang.
Setelah kurang lebih
dua bulan, ia mendapat email dari nomor yang mengaku dari pihak produsen lampu
bermerek tersebut. Cak Moet dinyatakan namanya keluar sebagai pemenang undian
dari produsen lampu tersebut, dan berhak mendapat hadiah rekening listrik
gratis selama dua bulan yang senilai dengan uang tunai Rp. 6 juta. Dengan
syarat harus pergi ke kantor pos untuk mengirimkan foto copy data diri dan
menyertakan nomor rekening tabungan yang dimiliki.
Cak Moet pun
mengabaikannya dan menganggap sebuah penipuan, karena maraknya aksi penipuan
melalui telepon pada saat itu. Sampai satu minggu berlalu, ia pergi ke toko
elekronik yang sama, untuk membeli spul pengeras suara karena speaker di masjid
mati. Ia melihat di etalase toko tersebut nama pemenang undian dari produsen
lampu ternama, dan terdapat nama Cak Moet serta alamat emailnya. Seketika itu Cak
Moet terlihat wajahnya berseri-seri dan tidak bisa menyembunyikan
kebahagiaannya. Segera ia pulang dan menyiapkan data diri untuk dikirim via
kantor pos. Ia mengajak serta istri dan putrinya untuk menemani. Dan setelah
semua data telah dikirim, Cak Moet diperintahkan untuk mengecek nomor
rekeningnya tiga hari pasca pengiriman data pribadi. Dan lagi-lagi Cak Moet tak
henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Allah Swt setelah melihat uang senilai
Rp 6 juta sudah masuk di nomor rekeningnya. Tapi atas saran istrinya, sebaiknya
Cak Moet bilang ke takmir masjid, karena nomor rekening yang tertera adalah
atas nama masjid. Cak Moet pun mengiyakan saran istrinya.
Akhirnya, saat malam
setelah selesai salat isya’, Cak Moet ke rumah ketua takmir untuk menyampaikan
berita tentang hadiah tersebut. Dan kata ketua takmir, “hadiahnya buat Cak Moet
saja karena itu rejeki dan kebetulan listrik masjid sudah ada donatur tetap
yang tiap bulannya. Mendengar jawaban ini, Cak Moet langsung berterima kasih
dan segera kembali untuk menemui istrinya. Keluarga kecil ini langsung bersujud
syukur atas hadiah dari Allah Swt yang begitu besar. Agar tidak habis begitu
saja tanpa ada nilai dan manfaatnya, maka Cak Moet memutuskan setengahnya
digunakan sebagai uang muka motor untuk menunjang keseharian mereka, karena
setiap harinya mereka harus pulang pergi dari ujung barat kota Malang ke ujung
timur kota malang untuk mengajar di sekolah.
Selama ini, mereka
memakai motor yang dipinjami oleh salah satu takmir. Lumayan untuk kegiatan
sehari-hari Cak Moet dan keluarga, namun karena motor tua ada saja kendalanya.
Gir dan rantai motor yang sudah aus, mesin yang sudah tidak lagi tangguh dan
ban motor yang sudah mulai tipis. Disamping itu, kelengkapan motor juga dalam
kondisi mati, surat tanda nomor kendaraan dan bukti pajak tahunan. Daripada Cak
Moet dan keluarga tidak tenang ketika di jalan raya, terlebih ketika ada razia
dari pihak kepolisian. Rasa was-was dan ketakutan yang menghantui. Maka
pertimbangan motor baru lebih diutamakan demi kenyamanan dan keselamatan. Dan
sebagian dari uang hadiah yang lain mereka berikan kepada kedua ibunya (kandung
dan ibu mertua) agar bisa ikut merasakan kesenangan seperti yang mereka dapatkan
dan do’a kebaikan tetap mengalir kepada Cak Moet dan keluarga. Alhamdulillah
Ramadhan Berkah Ramadhan Berhadiah. Luar biasa.
Penulis : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)

Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk GPAI yang lain.