Chanel Youtube


RAMADHAN BERKAH RAMADHAN BERHADIAH

 


Kisah ini berawal ketika penulis (sebut saja Cak Moet) masih menjadi seorang “JAMESBON” alias Penjaga Mesjid dan Kebon atau seorang marbot di Masjid salah satu perumahan di Kota Malang. Selama kurang lebih lima belas tahun menjadi marbot, tentu saja banyak sekali kisah-kisah yang Cak Moet alami. Mulai dari kisah lucu, kisah mistis hingga kisah yang luar biasa yang kadang susah untuk diterima secara logika. Namun tidak ada yang tidak mungkin, kalau Allah SWT yang berkehendak. Disini, penulis akan menceritakan satu dari beberapa kisah luar biasa yang dialami penulis ketika bulan ramadhan.  

Tugas seorang marbot di masjid memang terlihat biasa dan monoton. Seperti menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi, menguras tempat cuci kaki hingga membetulkan pengeras suara masjid. Namun ketika memasuki bulan suci Ramadan terutama sore hingga malam hari. Tugas seorang marbot seakan-akan dua kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Terlebih bila marbot tersebut hanya sendirian. Dari persiapan menjelang berbuka puasa, seperti menata meja untuk tempat takjil, mengajar mengaji di Taman Pendidikan al Qur’an (TPQ) dan mengatur serta membagikan takjil untuk jama’ah dan santri.

Ketika waktu maghrib tiba, Cak Moet pun mengumandangkan adzan dan minum air putih untuk membatalkan puasa. Sementara diluar masjid, para musafir, sebagian warga dan santri TPQ berbuka puasa. Ada saja ulah anak-anak ketika menikmati menu buka puasa, ada yang lari-larian, bercanda dengan temannya dan menumpahkan minuman yang mereka bawa. Sungguh seorang James Bon harus bekerja ekstra dari biasanya. Cak Moet segera menyuruh salah satu santri untuk melafalkan iqamah dan Cak Moet berdiri untuk menjadi seorang Imam.

Setelah salat maghrib, Cak Moet berbuka sekedar saja untuk mengganjal perutnya agar tidak terlalu kosong, kemudian ia lanjut membersihkan sisa-sisa makanan bekas anak-anak berbuka puasa, menata karpet dan memasang satir/penutup jama’ah perempuan untuk persiapan salat isya’ dan salat tarawih.

Selepas tarawih ia kembali merapikan karpet dan menyapu sisa kotoran dari jama’ah ibu-ibu yang ke masjid membawa anaknya yang masih kecil ikut serta. Kemudian ia ke kamar menemui keluarganya sambil melanjutkan berbuka puasa, setelah itu ikut bergabung bersama bapak-bapak yang tidak langsung pulang karena melanjutkan tadarus al qur’an sampai jam sepuluh malam. Dan biasanya dilanjutkan ngobrol asyik sambil menikmati segelas kopi hingga jam dua belas malam. Kemudian Cak Moet membersihkan kotak/kardus sisa-sisa takjil untuk dibakar agar tidak ada anjing yang datang untuk mencari sisa makanan di tempat sampah.

Masjid tempat Cak Moet mengabdi berada di lingkungan perumahan ala Bali. Walaupun mayoritas penduduknya Muslim, tapi ada juga yang beragama lain. Dan kebetulan juga ada yang memelihara anjing. Surat edaran atau tata tertib dari perangkat Rukun Warga (RW) sudah disepakati bersama tentang hewan peliharaan, tapi tetap saja ada satu dua orang yang bersikap cuek dan masa bodoh dengan aturan tersebut. Sehingga ketika sudah diatas jam sepuluh malam biasanya anjing-anjing ini keluar mencari makanan dan sukanya mengurai tempat sampah warga. Selepas membersihkan serambi dan halaman luar masjid, Cak Moet pun merebahkan diri untuk beristirahat. Dan pada jam 3.15 pagi ia terbangun dengan suara alarm di telepon genggamnya untuk segera membangunkan warga melalui pengeras suara di masjid agar mereka tidak terlambat menyiapkan makan sahur.

Selanjutnya Cak Moet pun membangunkan keluarganya untuk bersantap sahur bersama. Sepuluh menit menjelang waktu salat subuh, Cak Moet menyalakan semua lampu penerangan masjid dan pengeras suara. Untuk mengetahui waktu subuh tiba biasanya mendengarkan siaran radio masjid Jami’ Kota Malang sebagai induk masjid-masjid yang ada di Kota Malang. Dan azan subuh pun dikumandangkan sebagai pertanda bagi seorang muslim yang melaksanakan puasa bahwa waktu untuk menahan diri dari makan, minum dan segala hal yang membatalkan puasa telah dimulai dan bergegas mengambil air wudhu untuk mendirikan salat subuh berjama’ah di masjid.

Selama ramadan diadakan kuliah tujuh menit (kultum) di masjid untuk menambah wawasan tentang keagamaan bagi jama’ah. Pemateri kultum tidak hanya dari ustadz saja tapi juga warga perumahan sendiri yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Mulai dari ketua RW, dosen dan bahkan seorang dokter. Para dokter biasanya memberi materi kultum pada hari ahad pas ketika hari libur. Dan alhamdulillah antusias para jama’ah yang hadir sangat luar biasa, mereka merespons secara positif. Ketika sesi interaktif atau tanya jawab, banyak hal yang ditanyakan para jama’ah terkait tips agar tetap sehat dan bugar, atau tentang beberapa resep obat agar puasa tidak sampai mokel atau bolong. Dan kebanyakan para penanya memang bapak-ibu yang sudah purna dan berusia diatas enam puluh tahun. Mereka adalah para jama’ah yang aktif selama bulan ramadhan karena banyak waktu luang yang mereka miliki, jadi sayang kalau ramadhan pergi tidak diisi dengan hal-hal yang berarti.

Setelah kegiatan kultum biasanya mereka melanjutkan tadarus al qur’an sambil menunggu waktu syuruq atau isyraq dan melaksanakan salat dua raka’at sesuai dengan sunnah dan janji nabi Muhammad saw : Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik) kemudian pulang untuk memulai aktivitas atau beristirahat sejenak.

Cak Moet pun juga memutuskan untuk beristirahat agar nanti bisa segar kembali dan semangat untuk menyiapkan ibadah salat dhuhur.

Selepas shalat duhur, atas usulan dari bendahara masjid tadi malam, Cak Moet diperintahkan untuk mengganti dan menambah lampu utama masjid agar lebih terang dan jelas ketika kegiatan tadarus malam. Cak Moet bergegas ke toko elektronik yang berada di pertigaan Dinoyo Kota Malang untuk membeli beberapa lampu. Cak Moet membeli lampu yang bermerk agar nyalanya lebih terang dan tahan lama. Dan kemudian ia segera memasangnya di ruang utama masjid sesuai arahan dari bendahara masjid. Dalam box/kardus lampu tersebut terdapat hadiah undian bagi yang mengirimkan kardus bekas lampu ke tempat pembelian dengan syarat menyertakan alamat lengkap dan nomor email. Dan iseng-iseng Cak Moet pun mengisi data di bekas kardus tersebut dengan data lengkap yang diminta, tanpa berharap akan menjadi pemenang.

Setelah kurang lebih dua bulan, ia mendapat email dari nomor yang mengaku dari pihak produsen lampu bermerek tersebut. Cak Moet dinyatakan namanya keluar sebagai pemenang undian dari produsen lampu tersebut, dan berhak mendapat hadiah rekening listrik gratis selama dua bulan yang senilai dengan uang tunai Rp. 6 juta. Dengan syarat harus pergi ke kantor pos untuk mengirimkan foto copy data diri dan menyertakan nomor rekening tabungan yang dimiliki.

Cak Moet pun mengabaikannya dan menganggap sebuah penipuan, karena maraknya aksi penipuan melalui telepon pada saat itu. Sampai satu minggu berlalu, ia pergi ke toko elekronik yang sama, untuk membeli spul pengeras suara karena speaker di masjid mati. Ia melihat di etalase toko tersebut nama pemenang undian dari produsen lampu ternama, dan terdapat nama Cak Moet serta alamat emailnya. Seketika itu Cak Moet terlihat wajahnya berseri-seri dan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Segera ia pulang dan menyiapkan data diri untuk dikirim via kantor pos. Ia mengajak serta istri dan putrinya untuk menemani. Dan setelah semua data telah dikirim, Cak Moet diperintahkan untuk mengecek nomor rekeningnya tiga hari pasca pengiriman data pribadi. Dan lagi-lagi Cak Moet tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Allah Swt setelah melihat uang senilai Rp 6 juta sudah masuk di nomor rekeningnya. Tapi atas saran istrinya, sebaiknya Cak Moet bilang ke takmir masjid, karena nomor rekening yang tertera adalah atas nama masjid. Cak Moet pun mengiyakan saran istrinya.

Akhirnya, saat malam setelah selesai salat isya’, Cak Moet ke rumah ketua takmir untuk menyampaikan berita tentang hadiah tersebut. Dan kata ketua takmir, “hadiahnya buat Cak Moet saja karena itu rejeki dan kebetulan listrik masjid sudah ada donatur tetap yang tiap bulannya. Mendengar jawaban ini, Cak Moet langsung berterima kasih dan segera kembali untuk menemui istrinya. Keluarga kecil ini langsung bersujud syukur atas hadiah dari Allah Swt yang begitu besar. Agar tidak habis begitu saja tanpa ada nilai dan manfaatnya, maka Cak Moet memutuskan setengahnya digunakan sebagai uang muka motor untuk menunjang keseharian mereka, karena setiap harinya mereka harus pulang pergi dari ujung barat kota Malang ke ujung timur kota malang untuk mengajar di sekolah.

Selama ini, mereka memakai motor yang dipinjami oleh salah satu takmir. Lumayan untuk kegiatan sehari-hari Cak Moet dan keluarga, namun karena motor tua ada saja kendalanya. Gir dan rantai motor yang sudah aus, mesin yang sudah tidak lagi tangguh dan ban motor yang sudah mulai tipis. Disamping itu, kelengkapan motor juga dalam kondisi mati, surat tanda nomor kendaraan dan bukti pajak tahunan. Daripada Cak Moet dan keluarga tidak tenang ketika di jalan raya, terlebih ketika ada razia dari pihak kepolisian. Rasa was-was dan ketakutan yang menghantui. Maka pertimbangan motor baru lebih diutamakan demi kenyamanan dan keselamatan. Dan sebagian dari uang hadiah yang lain mereka berikan kepada kedua ibunya (kandung dan ibu mertua) agar bisa ikut merasakan kesenangan seperti yang mereka dapatkan dan do’a kebaikan tetap mengalir kepada Cak Moet dan keluarga. Alhamdulillah Ramadhan Berkah Ramadhan Berhadiah. Luar biasa.


Penulis : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)

Next Post Previous Post
1 Comments
  • Muhammad Muttaqin
    Muhammad Muttaqin 20 Februari 2026 pukul 01.59

    Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk GPAI yang lain.

Add Comment
comment url