Chanel Youtube


Literasi Keagamaan untuk Generasi Z: Antara Tradisi, Toleransi, dan Media Sosial

 


Generasi Z tumbuh di era ketika dunia berada dalam genggaman. Melalui ponsel pintar, mereka dapat mengakses beragam informasi hanya dalam hitungan detik, termasuk pengetahuan keagamaan. Ceramah, potongan ayat, kutipan tokoh agama, hingga perdebatan teologis tersebar luas di berbagai platform media sosial. Di satu sisi, kemudahan ini membuka peluang besar untuk memperdalam pemahaman agama. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga membawa tantangan: hoaks, ujaran kebencian, hingga tafsir yang terpotong dan keluar dari konteks. Disinilah pentingnya literasi keagamaan bagi Generasi Z. Literasi keagamaan bukan sekadar kemampuan membaca teks suci, tetapi juga kemampuan memahami ajaran agama secara utuh, kritis, dan kontekstual. Literasi ini mencakup kemampuan memilah sumber yang kredibel, memahami perbedaan pendapat dalam tradisi keagamaan, serta menumbuhkan sikap toleran dalam kehidupan bermasyarakat.

Generasi Z hidup di persimpangan antara tradisi dan modernitas (Valantia, M., & Munawaroh, M. (2025) menegaskan bahwa mereka mewarisi nilai-nilai agama dari keluarga dan lingkungan, namun juga terpapar gagasan global yang sangat beragam. Para ahli seperti Erik Erikson dalam penelitian yang menerapkan teori perkembangan psikososial Erik Erikson, ditemukan bahwa generasi Z sering mengalami konflik identitas saat berusaha menyeimbangkan nilai-nilai tradisional (misalnya ajaran keluarga dan budaya) dengan nilai-nilai modern yang berasal dari globalisasi dan teknologi digital. Generasi Z tidak hanya menerima nilai yang diwariskan, tetapi juga mengadaptasi dan memadukan unsur-unsur baru dalam proses pembentukan identitasnya.

 Tantangan muncul ketika nilai tradisional yang diajarkan di rumah terasa berbeda dengan narasi yang ditemui di media sosial. Tanpa literasi yang memadai, perbedaan ini bisa menimbulkan kebingungan bahkan konflik batin. Literasi keagamaan membantu Generasi Z memahami bahwa dalam setiap agama terdapat khazanah pemikiran yang luas dan beragam. Perbedaan pendapat bukanlah hal baru, melainkan bagian dari dinamika intelektual yang telah berlangsung selama berabad-abad (Nurdin, Lailiyah, & Ilahiyah, I. I. (2025). Dengan memahami konteks sejarah dan latar belakang suatu ajaran, generasi muda dapat melihat bahwa agama bukan sesuatu yang kaku, melainkan memiliki ruang dialog dan penafsiran. Terlihat yang ada di Indonesia misalnya, tradisi keagamaan berkembang dalam bingkai kebhinekaan.

Nilai toleransi dan gotong royong telah lama menjadi bagian dari kehidupan beragama terdapat beberapa penelitian yang relevan Marfiandana, A. (2024); Hasan, M. S. R. (2019). Generasi Z perlu menyadari bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan, tetapi merawat nilai-nilai inti seperti kejujuran, kasih sayang, dan keadilan dalam bentuk yang relevan dengan zaman.

Media sosial dapat menjadi ruang belajar yang luar biasa. Banyak ulama, pendeta, biksu, dan pemuka agama lain yang aktif membagikan kajian dan refleksi secara kreatif dan mudah dipahami. Konten berbentuk video singkat, infografis, hingga podcast membuat pembelajaran agama terasa lebih dekat dan praktis. Namun, media sosial juga memiliki algoritma yang sering kali memperkuat bias. Konten yang provokatif, kontroversial, atau emosional cenderung lebih cepat viral. Akibatnya, pesan agama yang seharusnya menyejukkan justru terkadang tampil dalam bentuk yang keras dan memecah belah. Generasi Z perlu memiliki kemampuan berpikir kritis: siapa yang berbicara, apa latar belakangnya, dan apakah informasi tersebut dapat diverifikasi? Sikap kritis bukan berarti curiga berlebihan, tetapi berhati-hati sebelum menyebarkan informasi. Prinsip sederhana seperti memeriksa sumber, membaca secara utuh (tidak hanya judul), serta membandingkan dengan referensi lain adalah bagian dari literasi keagamaan di era digital. Dengan begitu, media sosial tidak lagi menjadi ruang bias, melainkan ruang belajar yang produktif.

Salah satu indikator literasi keagamaan yang baik adalah tumbuhnya sikap toleransi. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan menghargai hak orang lain untuk meyakini dan menjalankan ajarannya. Dalam buku On Toleration, Walzer menjelaskan bahwa toleransi adalah sikap menerima keberadaan perbedaan dalam ruang publik tanpa harus menyetujui atau mengadopsi keyakinan pihak lain. Menurutnya, masyarakat majemuk membutuhkan toleransi sebagai fondasi hidup bersama. Artinya, seseorang tetap teguh pada keyakinannya, namun memberi ruang yang sah bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya. Ini sejalan dengan gagasan bahwa toleransi bukan sinkretisme (mencampuradukkan ajaran), melainkan penghormatan terhadap hak.

Generasi Z secara keagamaan akan memahami bahwa perbedaan adalah kenyataan sosial yang tidak bisa dihindari (Azizah, I. N., & Utami, R. D. (2023). Di tengah masyarakat majemuk, sikap saling menghormati menjadi kunci harmoni. Literasi keagamaan membantu generasi muda melihat persamaan nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh berbagai agama betapa pentingnya berbuat baik, menjauhi kekerasan, dan menjaga martabat sesama. Dengan perspektif ini, perbedaan tidak lagi dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan. Toleransi juga perlu diwujudkan dalam interaksi digital. Komentar yang santun, diskusi yang sehat, serta kesediaan mendengar pendapat berbeda merupakan praktik nyata literasi keagamaan. Generasi Z memiliki peran penting sebagai agen perdamaian di ruang maya, mengingat mereka adalah pengguna aktif media sosial.

Penguatan literasi keagamaan tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu. Keluarga memiliki peran utama dalam menanamkan pondasi nilai dan akhlak. Dialog terbuka tentang isu-isu keagamaan membantu anak memahami bahwa bertanya bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan bagian dari proses belajar. Sekolah dan perguruan tinggi juga berperan dalam mengajarkan agama secara komprehensif dan inklusif. Pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga diskusi dan refleksi, akan membentuk pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, komunitas keagamaan dapat menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk bertumbuh, berdiskusi, dan berkontribusi. Kolaborasi antara keluarga, institusi pendidikan, dan komunitas akan menciptakan ekosistem literasi keagamaan yang sehat. Dalam ekosistem ini, Generasi Z tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten positif yang menyebarkan pesan damai.

Menurut psikolog Jean Twenge, yang banyak meneliti Generasi Z dalam bukunya iGen, generasi ini tumbuh dalam era media digital dan globalisasi penuh informasi. Paparan ini mengubah cara mereka memandang nilai, norma, dan kehidupan sosial. Twenge menggambarkan Gen Z sebagai generasi yang memiliki pola pikir dan pandangan hidup sangat berbeda dari generasi sebelumnya, yang menyebabkan mereka sering “berada di tengah” antara tradisi lama dan gaya hidup modern.  Meski ini bukan pernyataan eksplisit tentang tradisi vs modernitas, kerangka riset Twenge menggambarkan negosiasi nilai dalam konteks perubahan sosial yang cepat sangat relevan dengan topik literasi keagamaan dan budaya.

Pada akhirnya, literasi keagamaan adalah tentang keseimbangan antara keyakinan dan keterbukaan, antara tradisi dan inovasi, antara semangat berdakwah dan sikap menghargai. Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi generasi beragama yang bijak karena mereka akrab dengan teknologi dan terbiasa dengan keberagaman. Dengan kemampuan memilah informasi, memahami konteks ajaran, serta mempraktikkan toleransi, Generasi Z dapat menjadikan agama sebagai sumber inspirasi, bukan sumber perpecahan. Di tengah arus media sosial yang deras, literasi keagamaan adalah kompas yang membantu mereka tetap teguh pada nilai, sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman. Jika pondasi ini kuat, maka masa depan keberagamaan di Indonesia akan diwarnai oleh generasi yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga matang secara intelektual dan emosional. Generasi yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas, serta menghadirkan agama sebagai rahmat bagi sesama.


Penulis : Denny Sukma Ardiyantoro, S.Pd I (GPAI SDN Pandanwangi 5)

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url