Chanel Youtube


Perjalanan Penuh Cerita GPAI SD Kota Malang pada Apel Akbar Se-Jawa Timur: Dari Apel Menuju ke Ampel

 

Kasi PAIS Kemenag Kota Malang, Pengawas PAI, Pengurus KKG PAI Kota Malang dan Perwakilan GPAI Kota Malang

Pagi itu, tanggal 16 Mei 2026, suasana di SD Nurul Izzah tampak berdenyut dengan energi yang tidak biasa. Sebuah momentum istimewa sedang bersiap membungkus langkah rombongan Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) tingkat Sekolah Dasar asal Kota Malang. Hari itu, mereka dijadwalkan bertolak menuju Surabaya untuk menghadiri perhelatan akbar, yakni Apel Akbar GPAI SD se-Jawa Timur yang diselenggarakan di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).

 

Sebelum roda bus mulai berputar, suasana keakraban sudah terpancar jelas di area sekolah. Sejak fajar menyingsing, para peserta yang hadir dengan balutan seragam batik Provinsi Jawa Timur yang kompak, tampak berkumpul santai di gazebo depan sekolah. Sambil menata perlengkapan yang dibawa, kebersamaan mereka kian hangat berkat hidangan sederhana namun menggugah selera berupa teh hangat, kopi, hingga ketela (telo) kukus hangat. Hidangan sarapan penuh kearifan lokal ini dipersiapkan secara apik oleh Ibu Maulidiah selaku Koordinator Bidang Humas KKG PAI Kota Malang. Di tengah kepulan asap kopi dan manisnya ketela, para guru menyimak dengan saksama untaian pembekalan penting yang disampaikan langsung oleh Zainul Qudsi, M.Pd.I selaku Ketua KKG PAI Kota Malang. Arahan tersebut kemudian diperkuat oleh Dr. Febrian Taufiq Sholeh, S.T., M.Pd.I selaku Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (Kasi PAIS) Kantor Kementerian Agama Kota Malang, dengan didampingi oleh Ibu Umi Latifah, S.Pd.I selaku Pengawas SD Kota Malang.

 

Perjalanan yang awalnya dipenuhi oleh pancaran semangat, sendau gurau, dan tawa renyah ini, ternyata menyimpan banyak sekali jalinan cerita unik, momen haru, hingga makna spiritual yang mendalam di sepanjang jalurnya. Begitu bus memasuki jalan tol menuju Surabaya, kabin kendaraan langsung riuh oleh gema lantunan selawat yang syahdu, lantunan qasidah, obrolan santai, hingga lemparan candaan khas para guru yang membuat waktu tempuh terasa begitu cepat dan hidup. Namun, dinamika perjalanan mulai terasa saat jarum jam menunjukkan pukul 08.10 WIB. Laju kendaraan tiba-tiba melambat dan akhirnya terhenti total. Sontak, situasi ini memicu tanda tanya di antara para penumpang. Setelah ditelusuri, usut punya usut, ternyata jalur utama yang hendak dilewati mengalami penutupan akibat padatnya arus kendaraan. Kondisi ini memaksa rombongan untuk memutar arah mencari rute alternatif demi bisa mencapai Stadion GBT tepat waktu.

 

Tantangan nyata baru benar-benar menguji fisik ketika rombongan menginjakkan kaki di kawasan Gelora Bung Tomo. Cuaca panas ekstrem khas pesisir Surabaya menyambut kehadiran mereka dengan sangat menyengat. Bagi para guru yang terbiasa hidup di bawah naungan hawa dingin, sejuk, dan segarnya Kota Malang, perubahan cuaca yang begitu mendadak dan drastis ini menjadi ujian adaptasi yang cukup menyulitkan. Perlahan, terik matahari yang membakar mulai membuat beberapa guru didera kelelahan, pusing, bahkan ada yang menunjukkan gejala awal dehidrasi akibat padatnya susunan acara apel di tengah lapangan terbuka.

 

Menariknya, di tengah ujian fisik tersebut, esensi dari persaudaraan sejati justru lahir. Semangat para GPAI Kota Malang sama sekali tidak surut seolah tidak mau kalah oleh keadaan. Dengan penuh kesadaran dan rasa empati, mereka saling bahu-membahu; ada yang membagikan sisa air minum, mengibaskan kipas kertas sederhana, hingga sigap menyodorkan obat-obatan ringan untuk rekan sejawat yang mulai limbung. Momen-momen spontan inilah yang memotret betapa kuat dan mahalnya rasa solidaritas serta ikatan kekeluargaan antar-GPAI SD se-Jawa Timur. Memasuki detik-detik akhir penghujung agenda penghargaan organisasi, setelah memastikan seluruh rangkaian inti diikuti dengan khidmat, rombongan Kota Malang akhirnya memutuskan bergerak keluar tribun terlebih dahulu demi mencari embusan udara segar dan memulihkan kondisi fisik.

 

Namun, lembaran cerita tidak berhenti di stadion saja. Bagian paling memikat dari perjalanan hari itu justru terjadi pasca-acara kedinasan selesai. Alih-alih langsung pulang ke Malang, rombongan besar GPAI Kota Malang sepakat melanjutkan perjalanan menuju destinasi spiritual, yakni Makam Sunan Ampel Surabaya. Meski raga didera lelah yang hebat dan sisa hawa panas Surabaya masih menyengat kulit, antusiasme para guru untuk berziarah sekaligus "ngalap barokah" (menjemput keberkahan) kepada salah satu tokoh Wali Songo penyebar Islam di tanah Jawa ini tetap menyala-nyala.

 

Setibanya di area parkir bus wisata religi Sunan Ampel, sebuah pemandangan menarik kembali tersaji. Melihat jarak menuju makam yang terhitung cukup jauh, pengurus KKG Kota Malang sempat berinisiatif menawarkan jasa transportasi becak kepada Bapak Kasi PAIS agar beliau tidak kelelahan. Namun, dengan penuh bersahaja, beliau menolak tawaran tersebut dan memilih untuk berjalan kaki beriringan bersama Ketua dan Sekretaris KKG PAI Kota Malang menikmati setiap jengkal trotoar.

 

Sambil berjalan kaki di tengah ramainya arus peziarah, Bapak Kasi PAIS sempat berbagi kisah nostalgia yang santai. Beliau menceritakan bahwa momen ini merupakan pengalaman pertamanya berjalan kaki dari area parkir bus umum. Sebab, pada kunjungan-kunjungan sebelumnya, beliau biasanya mendapatkan fasilitas parkir kendaraan khusus tepat di halaman depan Masjid Ampel. Beliau juga mengenang momen kunjungan terakhirnya ke tempat suci ini yang dilakukan bersama Gus Samton selaku Kepala Kantor Kemenag Kota Malang.

 

Di tengah asyiknya perbincangan sepanjang koridor jalan yang dipadati pedagang cenderamata dan wewangian, seragam batik provinsi yang dikenakan rombongan kembali memicu cerita menggelitik. Sayup-sayup, terdengar obrolan di antara para pedagang kaki lima di kanan dan kiri jalan yang memperhatikan kekompakan seragam mereka. "Mereka yang pakai seragam batik provinsi ini adalah rombongan haji plus," celetuk salah seorang pedagang kepada rekannya. Para pedagang rupanya mengira rombongan guru agama ini merupakan jemaah haji yang hendak bertolak ke tanah suci, mengingat momen tersebut memang bertepatan dengan musim keberangkatan haji. Mendengar anggapan unik yang salah alamat tersebut, Zainul Qudsi dan Bapak Kasi PAIS tidak berusaha meluruskan, melainkan hanya bisa saling melempar senyum lebar sembari dalam hati mengaminkan ucapan tersebut sebagai untaian doa kebaikan.

 

Begitu melangkah masuk ke dalam gerbang utama pesarean Sunan Ampel, suasana bising jalanan seketika sirna, berganti menjadi atmosfer spiritual yang sangat teduh, sunyi, dan menenangkan jiwa. Di sinilah para guru menghamparkan rasa lelah mereka. Dipimpin dengan khusyuk, agenda ziarah diawali dengan pembacaan tawasul, lantunan Surah Yasin, kalimat tahlil, dan dipuncaki dengan doa bersama yang mendalam. Di hadapan makam sang wali, mereka melangitkan doa agar senantiasa dikaruniai kesehatan, ketulusan hati, serta kekuatan batin dalam mendidik moral generasi bangsa, sekaligus berharap mampu mencetak generasi yang saleh dan salehah di Bumi Arema.

 

Pada akhirnya, perjalanan panjang ini bermutasi menjadi lebih dari sekadar pemenuhan agenda kedinasan organisasi untuk menghadiri sebuah apel akbar. Perjalanan ini telah menjelma menjadi sebuah riwayat tentang perjuangan fisik, kekuatan kebersamaan, dan pengisian ulang energi spiritual. Rasa gerah, ancaman dehidrasi, hingga keletihan otot kaki seolah menguap begitu saja, terbayar lunas oleh buncahan kebahagiaan dan kedamaian batin pasca-berdoa di Ampel.

 

“Capeknya luar biasa, tapi berkah dan nilai kebersamaannya juga sangat luar biasa. Benar-benar perjalanan dari Apel menuju ke Ampel,” ungkap salah seorang peserta dengan wajah berseri-seri penuh senyum sesaat setelah melangkah keluar dari kawasan Ampel.

 

Setelah seluruh rangkaian ziarah rampung dan batin kembali terisi penuh, rombongan KKG PAI Kota Malang segera bergerak kembali menuju bus untuk bertolak pulang ke Bumi Arema, membawa sejuta cerita berharga untuk dibagikan kepada keluarga tercinta di rumah.


Penulis : Zainul Qudsi, M.Pd I (Ketua KKG PAI Kota Malang)

Editor : tim IT KKG PAI Kota Malang

Next Post Previous Post
4 Comments
  • Muhammad Muttaqin
    Muhammad Muttaqin 19 Mei 2026 pukul 00.21

    Masya'Allah. Perjalanan yang luar Biasa. Bangga menjadi bagian dari GPAI Kota malang. Semoga semakin sukses.

    • Zainul Qudsi, M.Pd I
      Zainul Qudsi, M.Pd I 19 Mei 2026 pukul 01.30

      Aamiin... . Semangat...

  • Fida
    Fida 19 Mei 2026 pukul 04.27

    Alhamdulillah... Bisa mengikuti Apel Akbar GPAI se Jawa Timur bersama KKG PAI Kota Malang, Terima kasih... Sukses selalu KKG PAI Kota Malang

  • Zainul Qudsi, M.Pd I
    Zainul Qudsi, M.Pd I 19 Mei 2026 pukul 21.53

    Aamiin

Add Comment
comment url