Perjalanan Penuh Cerita GPAI SD Kota Malang pada Apel Akbar Se-Jawa Timur: Dari Apel Menuju ke Ampel
![]() |
| Kasi PAIS Kemenag Kota Malang, Pengawas PAI, Pengurus KKG PAI Kota Malang dan Perwakilan GPAI Kota Malang |
Pagi itu, tanggal 16 Mei 2026,
suasana di SD Nurul Izzah tampak berdenyut dengan energi yang tidak biasa.
Sebuah momentum istimewa sedang bersiap membungkus langkah rombongan Guru
Pendidikan Agama Islam (GPAI) tingkat Sekolah Dasar asal Kota Malang. Hari itu,
mereka dijadwalkan bertolak menuju Surabaya untuk menghadiri perhelatan akbar,
yakni Apel Akbar GPAI SD se-Jawa Timur yang diselenggarakan di Stadion Gelora
Bung Tomo (GBT).
Sebelum roda bus mulai berputar,
suasana keakraban sudah terpancar jelas di area sekolah. Sejak fajar
menyingsing, para peserta yang hadir dengan balutan seragam batik Provinsi Jawa
Timur yang kompak, tampak berkumpul santai di gazebo depan sekolah. Sambil
menata perlengkapan yang dibawa, kebersamaan mereka kian hangat berkat hidangan
sederhana namun menggugah selera berupa teh hangat, kopi, hingga ketela (telo)
kukus hangat. Hidangan sarapan penuh kearifan lokal ini dipersiapkan secara
apik oleh Ibu Maulidiah selaku Koordinator Bidang Humas KKG PAI Kota Malang. Di
tengah kepulan asap kopi dan manisnya ketela, para guru menyimak dengan saksama
untaian pembekalan penting yang disampaikan langsung oleh Zainul Qudsi, M.Pd.I
selaku Ketua KKG PAI Kota Malang. Arahan tersebut kemudian diperkuat oleh Dr.
Febrian Taufiq Sholeh, S.T., M.Pd.I selaku Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam
(Kasi PAIS) Kantor Kementerian Agama Kota Malang, dengan didampingi oleh Ibu
Umi Latifah, S.Pd.I selaku Pengawas SD Kota Malang.
Perjalanan yang awalnya dipenuhi oleh
pancaran semangat, sendau gurau, dan tawa renyah ini, ternyata menyimpan banyak
sekali jalinan cerita unik, momen haru, hingga makna spiritual yang mendalam di
sepanjang jalurnya. Begitu bus memasuki jalan tol menuju Surabaya, kabin
kendaraan langsung riuh oleh gema lantunan selawat yang syahdu, lantunan
qasidah, obrolan santai, hingga lemparan candaan khas para guru yang membuat
waktu tempuh terasa begitu cepat dan hidup. Namun, dinamika perjalanan mulai
terasa saat jarum jam menunjukkan pukul 08.10 WIB. Laju kendaraan tiba-tiba
melambat dan akhirnya terhenti total. Sontak, situasi ini memicu tanda tanya di
antara para penumpang. Setelah ditelusuri, usut punya usut, ternyata jalur
utama yang hendak dilewati mengalami penutupan akibat padatnya arus kendaraan.
Kondisi ini memaksa rombongan untuk memutar arah mencari rute alternatif demi
bisa mencapai Stadion GBT tepat waktu.
Tantangan nyata baru benar-benar
menguji fisik ketika rombongan menginjakkan kaki di kawasan Gelora Bung Tomo.
Cuaca panas ekstrem khas pesisir Surabaya menyambut kehadiran mereka dengan
sangat menyengat. Bagi para guru yang terbiasa hidup di bawah naungan hawa
dingin, sejuk, dan segarnya Kota Malang, perubahan cuaca yang begitu mendadak
dan drastis ini menjadi ujian adaptasi yang cukup menyulitkan. Perlahan, terik
matahari yang membakar mulai membuat beberapa guru didera kelelahan, pusing,
bahkan ada yang menunjukkan gejala awal dehidrasi akibat padatnya susunan acara
apel di tengah lapangan terbuka.
Menariknya, di tengah ujian fisik
tersebut, esensi dari persaudaraan sejati justru lahir. Semangat para GPAI Kota
Malang sama sekali tidak surut seolah tidak mau kalah oleh keadaan. Dengan
penuh kesadaran dan rasa empati, mereka saling bahu-membahu; ada yang
membagikan sisa air minum, mengibaskan kipas kertas sederhana, hingga sigap menyodorkan
obat-obatan ringan untuk rekan sejawat yang mulai limbung. Momen-momen spontan
inilah yang memotret betapa kuat dan mahalnya rasa solidaritas serta ikatan
kekeluargaan antar-GPAI SD se-Jawa Timur. Memasuki detik-detik akhir penghujung
agenda penghargaan organisasi, setelah memastikan seluruh rangkaian inti
diikuti dengan khidmat, rombongan Kota Malang akhirnya memutuskan bergerak
keluar tribun terlebih dahulu demi mencari embusan udara segar dan memulihkan
kondisi fisik.
Namun, lembaran cerita tidak berhenti
di stadion saja. Bagian paling memikat dari perjalanan hari itu justru terjadi
pasca-acara kedinasan selesai. Alih-alih langsung pulang ke Malang, rombongan
besar GPAI Kota Malang sepakat melanjutkan perjalanan menuju destinasi
spiritual, yakni Makam Sunan Ampel Surabaya. Meski raga didera lelah yang hebat
dan sisa hawa panas Surabaya masih menyengat kulit, antusiasme para guru untuk
berziarah sekaligus "ngalap barokah" (menjemput keberkahan) kepada
salah satu tokoh Wali Songo penyebar Islam di tanah Jawa ini tetap
menyala-nyala.
Setibanya di area parkir bus wisata
religi Sunan Ampel, sebuah pemandangan menarik kembali tersaji. Melihat jarak
menuju makam yang terhitung cukup jauh, pengurus KKG Kota Malang sempat
berinisiatif menawarkan jasa transportasi becak kepada Bapak Kasi PAIS agar
beliau tidak kelelahan. Namun, dengan penuh bersahaja, beliau menolak tawaran
tersebut dan memilih untuk berjalan kaki beriringan bersama Ketua dan
Sekretaris KKG PAI Kota Malang menikmati setiap jengkal trotoar.
Sambil berjalan kaki di tengah
ramainya arus peziarah, Bapak Kasi PAIS sempat berbagi kisah nostalgia yang
santai. Beliau menceritakan bahwa momen ini merupakan pengalaman pertamanya
berjalan kaki dari area parkir bus umum. Sebab, pada kunjungan-kunjungan
sebelumnya, beliau biasanya mendapatkan fasilitas parkir kendaraan khusus tepat
di halaman depan Masjid Ampel. Beliau juga mengenang momen kunjungan
terakhirnya ke tempat suci ini yang dilakukan bersama Gus Samton selaku Kepala
Kantor Kemenag Kota Malang.
Di tengah asyiknya perbincangan
sepanjang koridor jalan yang dipadati pedagang cenderamata dan wewangian,
seragam batik provinsi yang dikenakan rombongan kembali memicu cerita
menggelitik. Sayup-sayup, terdengar obrolan di antara para pedagang kaki lima di
kanan dan kiri jalan yang memperhatikan kekompakan seragam mereka. "Mereka yang pakai seragam batik provinsi ini adalah rombongan haji
plus," celetuk salah seorang pedagang kepada rekannya. Para pedagang
rupanya mengira rombongan guru agama ini merupakan jemaah haji yang hendak
bertolak ke tanah suci, mengingat momen tersebut memang bertepatan dengan musim
keberangkatan haji. Mendengar anggapan unik yang salah alamat tersebut, Zainul
Qudsi dan Bapak Kasi PAIS tidak berusaha meluruskan, melainkan hanya bisa
saling melempar senyum lebar sembari dalam hati mengaminkan ucapan tersebut
sebagai untaian doa kebaikan.
Begitu melangkah masuk ke dalam
gerbang utama pesarean Sunan Ampel, suasana bising jalanan seketika sirna,
berganti menjadi atmosfer spiritual yang sangat teduh, sunyi, dan menenangkan
jiwa. Di sinilah para guru menghamparkan rasa lelah mereka. Dipimpin dengan
khusyuk, agenda ziarah diawali dengan pembacaan tawasul, lantunan Surah Yasin,
kalimat tahlil, dan dipuncaki dengan doa bersama yang mendalam. Di hadapan
makam sang wali, mereka melangitkan doa agar senantiasa dikaruniai kesehatan,
ketulusan hati, serta kekuatan batin dalam mendidik moral generasi bangsa,
sekaligus berharap mampu mencetak generasi yang saleh dan salehah di Bumi
Arema.
Pada akhirnya, perjalanan panjang ini
bermutasi menjadi lebih dari sekadar pemenuhan agenda kedinasan organisasi
untuk menghadiri sebuah apel akbar. Perjalanan ini telah menjelma menjadi
sebuah riwayat tentang perjuangan fisik, kekuatan kebersamaan, dan pengisian ulang
energi spiritual. Rasa gerah, ancaman dehidrasi, hingga keletihan otot kaki
seolah menguap begitu saja, terbayar lunas oleh buncahan kebahagiaan dan
kedamaian batin pasca-berdoa di Ampel.
“Capeknya luar biasa, tapi berkah
dan nilai kebersamaannya juga sangat luar biasa. Benar-benar perjalanan dari
Apel menuju ke Ampel,” ungkap salah seorang peserta dengan wajah berseri-seri
penuh senyum sesaat setelah melangkah keluar dari kawasan Ampel.
Setelah seluruh rangkaian ziarah
rampung dan batin kembali terisi penuh, rombongan KKG PAI Kota Malang segera
bergerak kembali menuju bus untuk bertolak pulang ke Bumi Arema, membawa sejuta
cerita berharga untuk dibagikan kepada keluarga tercinta di rumah.
Penulis : Zainul Qudsi, M.Pd I (Ketua KKG PAI Kota Malang)
Editor : tim IT KKG PAI Kota Malang

Masya'Allah. Perjalanan yang luar Biasa. Bangga menjadi bagian dari GPAI Kota malang. Semoga semakin sukses.
Aamiin... . Semangat...
Alhamdulillah... Bisa mengikuti Apel Akbar GPAI se Jawa Timur bersama KKG PAI Kota Malang, Terima kasih... Sukses selalu KKG PAI Kota Malang
Aamiin