Chanel Youtube


Ngabuburit: Antara Tradisi dan Sunnah Nabi

 




Ngabuburit merupakan tradisi khas yang dilakukan untuk “mengisi waktu” menjelang berbuka puasa di bulan Ramadan. Di kota Malang, banyak orang memilih ngabuburit dengan cara berburu takjil di pasar Ramadan yang muncul musiman di berbagai titik. Para pedagang menjajakan makanan, pembeli memilih menu buka, dan jalanan sore berubah menjadi ruang pertemuan masyarakat. Tidak sedikit pula masyarakat Malang yang ngabuburit dengan nongkrong di kafe yang menyediakan menu berbuka, nongkrong di pinggir jalan, menonton reels video di media sosial, atau sebatas tidur-tiduran sambil mengamati jarum jam yang terus berputar menuju waktu berbuka. Fenomena semacam ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai pendidik agama. Kita harus mengedukasi generasi kita agar momen Ramadan tidak diisi dengan kegiatan yang kurang berfaedah atau bahkan berpotensi memicu maksiat. Alih-alih dapat pahala justru puasa berlalu tanpa makna. Rasulullah telah mengingatkan kita dalam hadisnya:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ

Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa, ia tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar.” (HR Ibnu Majah).

Ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk menyambut datangnya waktu berbuka puasa, di antaranya adalah tadarus, berbagi ta’jil, menuntut ilmu, I’tikaf di masjid dan berdoa.

Tadarus berasal dari kata "darasa" yang berarti belajar atau membaca dengan mendalami. Dalam konteks Islam, tadarus merujuk pada aktivitas membaca Al-Qur'an secara berulang-ulang, baik secara individu maupun bersama-sama dalam sebuah majelis. Tadarus adalah salah satu amalan yang dapat menghidupkan malam Ramadhan. Banyak keuntungan yang diperoleh umat Islam melakukan tadarus di bulan Ramadan utamanya menjelang aktu berbuka, diantaranya adalah: mendapatkan pahala yang berlipat ganda, mendapat syafaat di hari kiamat, meningkatkan pemahaman terhadap Al-Qur'an, menghidupkan tradisi Rasulullah SAW, dan menjalin kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah apabila tadarus dilakukan secara berjamaah. Rasulullah SAW bersabda:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ   

Artinya, “Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah saw adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril as menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus.” (HR Al-Bukhari). 

Takjil merupakan makanan atau minuman untuk mengawali buka puasa. Biasanya berupa yang manis-manis seperti sirup, es buah, buah-buahan, dan sebagainya. Kita bisa menjadikan waktu ngabuburit tidak semata-mata berburu takjil, tetapi kita berbagi takjil kepada saudara sesama Muslim. Berbagi takjil merupakan cara kita bersyukur atas anugerah yang telah Allah berikan kepada kita, termasuk bersyukur diberi kesempatan berjumpa dengan buan Ramadan yang mulia. Banyak keutamaan apabila kita berbagi takjil kepada sesama, salah satu di antaranya kita akan mendapatkan pahala sama degan pahala puasanya orang yang kita beri makanan untuk berbuka. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا   

Artinya, “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR At-Tirmidzi).   

Menuntut Ilmu menjadi pilihan tepat untuk mengisi waktu ngabuburit. Menuntut ilmu bisa dilakukan dengan mendengarkan pengajian-mengajian. Di era digital seperti sekarang, kita bisa banyak menjumpai kajian-kajian keislaman di media sosial. Banyak para pendakwah milenial membuat konten islami yang bisa kita akses. Selain itu, tidak sedikit pula kiai-kiai pesantren yang melakukan live streaming pengajian dari pesantren masing-masing. Tidak sedikit pula musalla atau masjid yang sengaja mengadakan pengajian khusus menyambut datangya waktu berbuka. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang menyinggung soal keutamaan dan pahala menuntut ilmu. Salah satunya sabda Rasulullah SAW:

    وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ   

 Artinya, “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” (HR Abu Dawud).

Menghabiskan waktu ngabuburit dengan beri’tikaf di masjid juga memiliki nilai pahala yang cukup tinggi. I’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di dalam masjid sambil memperbanyak ibadah seperti shalat sunah, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Hal ini sudah biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam hadisnya:

كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya, "Rasulullah saw melaksanakan i’tikaf pada sepuluh (malam) terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau wafat, lalu (dilanjutkan) istri-istrinya yang i’tikaf sepeninggalnya." (HR Al-Bukhari).    Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw menjadikan sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan untuk banyak beri’tikaf di masjid. Sebab, waktu-waktu tersebut merupakan momen potensial terjadinya Lailatul Qadar. Meski demikian, tidak ada salahnya jika kita beri’tikaf selama satu bulan penuh, sebab waktu terjadinya Lailatul Qadar juga berpotensi di selain sepuluh hari terakhir.  

Waktu berbuka puasa termasuk salah satu waktu mustajab untuk berdoa karena kondisi fisik dan spiritual seorang Muslim saat itu sangat tinggi. Sepanjang hari berpuasa, seseorang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Keadaan seperti ini menjadikan hati lebih rendah dan tunduk kepada Allah SWT, sehingga doa yang dipanjatkan pada saat berbuka lebih mudah diterima. Berdoa saat menjelang berbuka puasa bukan sekadar mengucapkan kata-kata, tetapi sebuah bentuk pengakuan bahwa segala kebaikan berasal dari Allah SWT.  Walaupun doa dapat dilakukan kapan saja, waktu berbuka puasa menjadi salah satu saat yang spesial karena berkaitan erat dengan ibadah puasa yang penuh kedisiplinan dan kesabaran. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

 ثَلَاثةٌ لا تُرَدُّ دَعوَتُهُمُ؛ الإمامُ العادِلُ، والصّائمُ حَتَّى يُفطِرَ، ودَعوَةُ المَظلومِ تُحمَلُ على الغَمامِ وتُفتَحُ لَها أبوابُ السَّماءِ، ويَقولُ الرَّبُّ: وعِزَّتِى لأنصُرَنَّكِ ولَو بَعدَ حينٍ

Artinya, “Tiga golongan yang tidak ditolak doanya: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi yang diangkat oleh Allah di atas awan, dibukakan baginya pintu-pintu langit, lalu Allah berfirman: ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu meski setelah beberapa waktu’.” (HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At-Tirmidzi)

Dengan demikian ngabuburit bukan sekedar sebuah tradisi. Ngabuburit adalah momentum untuk meningkatkan kualitas iman di diri. Kita revitalisasi ngabuburit dengan melakukan kegiatan-kegiatan posisitif sesuai dengan tuntunan nabi. Tadarus, berbagi ta’jil, menuntut ilmu, I’tikaf di masjid dan berdoa adalah aktivitas yang harus kita jadikan sebagai habituasi. Semoga Allah SWT selalu memberkahi Ramadan kita sampai Idul fitri nanti. Amien.

 

Oleh : Siti Aisyah, S.Ag (GPAI SD Islam Sabilillah)



Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url