Ngabuburit: Antara Tradisi dan Sunnah Nabi
.jpg)
Ngabuburit merupakan
tradisi khas yang dilakukan untuk “mengisi waktu” menjelang berbuka puasa di
bulan Ramadan. Di kota Malang, banyak orang memilih ngabuburit dengan cara
berburu takjil di pasar Ramadan yang muncul musiman di berbagai titik. Para pedagang
menjajakan makanan, pembeli memilih menu buka, dan jalanan sore berubah menjadi
ruang pertemuan masyarakat. Tidak sedikit pula masyarakat Malang yang ngabuburit
dengan nongkrong di kafe yang menyediakan menu berbuka, nongkrong di pinggir
jalan, menonton reels video di media sosial, atau sebatas tidur-tiduran sambil
mengamati jarum jam yang terus berputar menuju waktu berbuka. Fenomena semacam
ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai pendidik agama. Kita harus
mengedukasi generasi kita agar momen Ramadan tidak diisi dengan kegiatan yang
kurang berfaedah atau bahkan berpotensi memicu maksiat. Alih-alih dapat pahala
justru puasa berlalu tanpa makna. Rasulullah telah mengingatkan kita dalam
hadisnya:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ
لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ
Artinya, “Betapa
banyak orang yang berpuasa, ia tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar.” (HR
Ibnu Majah).
Ada beberapa
kegiatan yang bisa dilakukan untuk menyambut datangnya waktu berbuka puasa, di
antaranya adalah tadarus, berbagi ta’jil, menuntut ilmu, I’tikaf di masjid dan berdoa.
Tadarus berasal dari kata "darasa" yang berarti belajar atau
membaca dengan mendalami. Dalam konteks Islam, tadarus merujuk pada aktivitas
membaca Al-Qur'an secara berulang-ulang, baik secara individu maupun
bersama-sama dalam sebuah majelis. Tadarus adalah salah satu amalan yang dapat
menghidupkan malam Ramadhan. Banyak keuntungan yang diperoleh umat Islam
melakukan tadarus di bulan Ramadan utamanya menjelang aktu berbuka, diantaranya
adalah: mendapatkan pahala yang berlipat ganda, mendapat syafaat di hari
kiamat, meningkatkan pemahaman terhadap Al-Qur'an, menghidupkan tradisi
Rasulullah SAW, dan menjalin kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah apabila tadarus
dilakukan secara berjamaah. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ
فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ
الْمُرْسَلَةِ
Artinya, “Dari
Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah saw adalah manusia yang paling lembut terutama
pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril as menemuinya, dan adalah Jibril
mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya
Al-Quran. Sungguh Rasulullah saw orang yang paling lembut daripada angin yang
berhembus.” (HR Al-Bukhari).
Takjil merupakan makanan atau minuman untuk mengawali buka puasa.
Biasanya berupa yang manis-manis seperti sirup, es buah, buah-buahan, dan
sebagainya. Kita bisa menjadikan waktu ngabuburit tidak semata-mata berburu
takjil, tetapi kita berbagi takjil kepada saudara sesama Muslim. Berbagi takjil
merupakan cara kita bersyukur atas anugerah yang telah Allah berikan kepada
kita, termasuk bersyukur diberi kesempatan berjumpa dengan buan Ramadan yang
mulia. Banyak keutamaan apabila kita berbagi takjil kepada sesama, salah satu
di antaranya kita akan mendapatkan pahala sama degan pahala puasanya orang yang
kita beri makanan untuk berbuka. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ
أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya,
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala
seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang
berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR At-Tirmidzi).
Menuntut Ilmu menjadi pilihan tepat untuk mengisi waktu ngabuburit.
Menuntut ilmu bisa dilakukan dengan mendengarkan pengajian-mengajian. Di era
digital seperti sekarang, kita bisa banyak menjumpai kajian-kajian keislaman di
media sosial. Banyak para pendakwah milenial membuat konten islami yang bisa
kita akses. Selain itu, tidak sedikit pula kiai-kiai pesantren yang melakukan
live streaming pengajian dari pesantren masing-masing. Tidak sedikit pula
musalla atau masjid yang sengaja mengadakan pengajian khusus menyambut datangya
waktu berbuka. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang menyinggung soal
keutamaan dan pahala menuntut ilmu. Salah satunya sabda Rasulullah SAW:
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ
على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
Artinya, “Sesungguhnya keutamaan orang yang
berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama
dibanding seluruh bintang- bintang.” (HR Abu Dawud).
Menghabiskan waktu ngabuburit dengan beri’tikaf di masjid juga memiliki
nilai pahala yang cukup tinggi. I’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di dalam
masjid sambil memperbanyak ibadah seperti shalat sunah, dzikir, dan membaca
Al-Qur’an. Hal ini sudah biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana
disebutkan dalam hadisnya:
كَانَ يَعْتَكِفُ
الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ
أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Artinya,
"Rasulullah saw melaksanakan i’tikaf pada sepuluh (malam) terakhir dari
bulan Ramadhan sampai beliau wafat, lalu (dilanjutkan) istri-istrinya yang
i’tikaf sepeninggalnya." (HR Al-Bukhari). Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah
saw menjadikan sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan untuk banyak
beri’tikaf di masjid. Sebab, waktu-waktu tersebut merupakan momen potensial
terjadinya Lailatul Qadar. Meski demikian, tidak ada salahnya jika kita
beri’tikaf selama satu bulan penuh, sebab waktu terjadinya Lailatul Qadar juga
berpotensi di selain sepuluh hari terakhir.
Waktu berbuka puasa termasuk salah satu waktu mustajab untuk berdoa
karena kondisi fisik dan spiritual seorang Muslim saat itu sangat tinggi.
Sepanjang hari berpuasa, seseorang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Keadaan
seperti ini menjadikan hati lebih rendah dan tunduk kepada Allah SWT, sehingga
doa yang dipanjatkan pada saat berbuka lebih mudah diterima. Berdoa saat
menjelang berbuka puasa bukan sekadar mengucapkan kata-kata, tetapi sebuah
bentuk pengakuan bahwa segala kebaikan berasal dari Allah SWT. Walaupun doa dapat dilakukan kapan saja,
waktu berbuka puasa menjadi salah satu saat yang spesial karena berkaitan erat
dengan ibadah puasa yang penuh kedisiplinan dan kesabaran. Dalam sebuah hadis Rasulullah
SAW bersabda:
ثَلَاثةٌ لا تُرَدُّ دَعوَتُهُمُ؛
الإمامُ العادِلُ، والصّائمُ حَتَّى يُفطِرَ، ودَعوَةُ المَظلومِ تُحمَلُ على
الغَمامِ وتُفتَحُ لَها أبوابُ السَّماءِ، ويَقولُ الرَّبُّ: وعِزَّتِى
لأنصُرَنَّكِ ولَو بَعدَ حينٍ
Artinya, “Tiga
golongan yang tidak ditolak doanya: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa
hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi yang diangkat oleh Allah di
atas awan, dibukakan baginya pintu-pintu langit, lalu Allah berfirman: ‘Demi
kemuliaan-Ku, Aku pasti akan menolongmu meski setelah beberapa waktu’.” (HR
Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At-Tirmidzi)
Dengan demikian
ngabuburit bukan sekedar sebuah tradisi. Ngabuburit adalah momentum untuk
meningkatkan kualitas iman di diri. Kita revitalisasi ngabuburit dengan
melakukan kegiatan-kegiatan posisitif sesuai dengan tuntunan nabi. Tadarus,
berbagi ta’jil, menuntut ilmu, I’tikaf di masjid dan berdoa adalah aktivitas
yang harus kita jadikan sebagai habituasi. Semoga Allah SWT selalu memberkahi
Ramadan kita sampai Idul fitri nanti. Amien.