Chanel Youtube


Ramadan di Persimpangan: Antara Godaan MBG dan Keteguhan Ibadah Puasa

 


Ramadan tahun ini hadir dengan diskursus baru yang cukup menyita perhatian publik: implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertepatan dengan bulan suci. Di satu sisi, program ini membawa misi mulia untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi generasi muda. Namun, di sisi lain, pelaksanaannya di tengah bulan puasa memicu dilema etis, pedagogis, dan spiritual, terutama bagi anak-anak sekolah yang sedang belajar memaknai esensi menahan diri. Fenomena ini menempatkan umat, khususnya para pendidik dan orang tua, dalam persimpangan antara mendukung program negara dan menjaga marwah kewajiban puasa.

Esensi Puasa: Menahan di Tengah Kelimpahan

Secara syariat, puasa adalah al-imsak, yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, esensi terdalamnya adalah latihan kehendak dan pengendalian nafsu. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa dalam ayat ini mencakup kemampuan individu untuk mendahulukan perintah Allah di atas keinginan jasmaninya. Ketika program MBG dijalankan di lingkungan sekolah pada siang hari saat Ramadan, terjadi benturan psikologis bagi siswa. Anak-anak yang sedang berproses menuju baligh dan sedang belajar berpuasa penuh, kini dihadapkan pada aroma dan visual makanan yang disajikan secara gratis di depan mata mereka. Kelimpahan yang datang di waktu yang "salah" ini berpotensi mengaburkan pelajaran tentang rasa empati terhadap kaum papa yang seringkali tidak makan karena ketiadaan, bukan karena kewajiban.

Implementasi MBG di Bulan Ramadan

Kritik utama terhadap pelaksanaan MBG di bulan Ramadan terletak pada aspek ketepatan momentum dan penghormatan terhadap nilai lokal-spiritual. Pendidikan bukan sekadar tentang transfer nutrisi ke dalam tubuh, tetapi juga transfer nilai ke dalam jiwa. Kurikulum Merdeka yang menekankan pada Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi "Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia", seharusnya menjadi kompas dalam setiap kebijakan sekolah.

Memaksakan pembagian makanan di sekolah pada siang hari Ramadan, meskipun dengan alasan target capaian program, adalah langkah yang kurang taktis. Hal ini bisa dianggap kurang peka terhadap ekosistem sekolah Islam atau sekolah umum yang mayoritas siswanya sedang berpuasa. Jika makanan dibagikan untuk dibawa pulang, risikonya adalah penurunan kualitas gizi karena makanan tidak lagi segar. Jika dibagikan untuk dimakan di sekolah bagi yang tidak berpuasa (non-Muslim atau yang berhalangan), hal ini tetap menciptakan sekat psikologis dan tantangan godaan yang berat bagi mereka yang sedang belajar teguh dalam lapar.

Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya suasana yang mendukung ibadah:

“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini mengajarkan bahwa pemberian makan seharusnya menjadi pendukung ibadah puasa (saat berbuka), bukan menjadi kompetitor atau godaan yang muncul di tengah hari saat puasa sedang berlangsung. Alternatif lainnya, selama Ramadan MBG dihentikan dimulai kembali ketika usai lebaran, agar kualitas gizi makanan terjaga dan penyaluran juga tepat sasaran.

Godaan Konsumerisme dan Distraksi Spiritual

Hadirnya MBG di tengah Ramadan, jika tidak dikelola dengan bijak, bisa terjebak dalam arus konsumerisme yang dikemas dalam bentuk bantuan sosial. Ramadan adalah bulan untuk "mengencangkan ikat pinggang" sebuah metafora bagi kesungguhan ibadah dan pengurangan keterikatan pada materi. Ketika negara hadir memberikan makanan secara cuma-cuma di jam-jam puasa, pesan yang sampai kepada anak didik bisa menjadi bias: bahwa urusan perut tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditunda, bahkan oleh bulan suci sekalipun.

Padahal, Ramadan mengajarkan kita tentang Ithar (mendahulukan orang lain) dan penguasaan diri. Pelaksanaan MBG yang tidak adaptif terhadap waktu Ramadan dikhawatirkan akan melemahkan daya juang spiritual anak-anak. Mereka yang seharusnya belajar "merasakan lapar" agar muncul rasa syukur, justru disuapi oleh kemudahan yang bisa membuat mereka terlena pada nikmat dunia yang bersifat fana.

Solusi Kontekstual: Menghentikan MBG Siang Hari dan Mengalihkannya Menjadi Berkah Berbuka

Demi menjaga kekhusyukan ibadah dan efektivitas program, pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah pada siang hari selama bulan Ramadan sebaiknya dihentikan sementara. Program ini dapat digulirkan kembali secara normal usai libur Lebaran. Sebagai langkah yang solutif dan berkemajuan, pemerintah serta lembaga pendidikan sebaiknya melakukan rekayasa momentum dengan mengubah formatnya menjadi "Paket Gizi Buka Puasa bagi yang Membutuhkan".

Langkah taktis ini akan mencapai tiga tujuan mulia sekaligus:

  1. Tujuan Kesehatan: Gizi tetap tersalurkan secara optimal kepada siswa saat tubuh paling membutuhkannya untuk pemulihan energi, yaitu tepat pada saat berbuka puasa.
  2. Tujuan Spiritual: Menghormati siswa yang sedang belajar berpuasa dengan tidak menciptakan godaan visual maupun aroma makanan di siang hari, sehingga mentalitas menahan diri (imsak) tetap terjaga.
  3. Tujuan Sosial: Memperkuat ukhuwah Islamiyah dan rasa kepedulian sosial melalui tradisi berbagi paket berbuka yang didukung penuh oleh negara.

Hal ini sejalan dengan peringatan Allah SWT untuk selalu bersikap bijak, tidak berlebihan, dan menempatkan sesuatu sesuai pada porsinya. Dalam QS. Al-A'raf ayat 31 disebutkan:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Ayat ini mengandung pesan mendalam tentang kebijaksanaan dalam konsumsi. Makna "jangan berlebihan" juga dapat diartikan sebagai perintah untuk tidak menuruti syahwat makan dan minum di waktu serta tempat yang tidak tepat, terutama saat kewajiban puasa sedang ditegakkan.

Menjaga Marwah Ibadah di Era Modern

Ramadan adalah perjalanan reflektif. Di tengah arus perubahan zaman dan kebijakan publik seperti MBG, kita harus tetap berdiri tegak pada prinsip ideologi yang kuat. Sebagai guru dan orang tua, tugas kita adalah memastikan bahwa anak-anak kita tidak kehilangan arah. Kita harus memahamkan mereka bahwa makanan di depan mata adalah ujian, dan menahan diri adalah kemenangan yang belum waktunya.

Marilah kita jaga agar Ramadan tetap menjadi bulan di mana "Suara Langit" lebih nyaring terdengar daripada suara riuh piring-piring makanan di siang hari. Dengan koordinasi yang baik antara kebijakan pemerintah dan kesadaran spiritual umat, program MBG bisa menjadi wasilah (perantara) kesehatan tanpa harus menjadi batu sandungan bagi keteguhan iman. Semoga kita mampu melewati Ramadan ini dengan fisik yang sehat dan jiwa yang tetap murni, jauh dari keterlenaan duniawi.

 

Oleh : Admin KKG PAI Kota Malang

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url