Ramadan di Persimpangan: Antara Godaan MBG dan Keteguhan Ibadah Puasa
Ramadan tahun ini hadir dengan
diskursus baru yang cukup menyita perhatian publik: implementasi program Makan
Bergizi Gratis (MBG) yang bertepatan dengan bulan suci. Di satu sisi, program
ini membawa misi mulia untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi generasi
muda. Namun, di sisi lain, pelaksanaannya di tengah bulan puasa memicu dilema
etis, pedagogis, dan spiritual, terutama bagi anak-anak sekolah yang sedang
belajar memaknai esensi menahan diri. Fenomena ini menempatkan umat, khususnya
para pendidik dan orang tua, dalam persimpangan antara mendukung program negara
dan menjaga marwah kewajiban puasa.
Esensi
Puasa: Menahan di Tengah Kelimpahan
Secara syariat, puasa adalah al-imsak, yaitu
menahan diri dari segala hal yang membatalkan, mulai dari terbit fajar hingga
terbenam matahari. Namun, esensi terdalamnya adalah latihan kehendak dan
pengendalian nafsu. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa dalam ayat ini mencakup
kemampuan individu untuk mendahulukan perintah Allah di atas keinginan
jasmaninya. Ketika program MBG dijalankan di lingkungan sekolah pada siang hari
saat Ramadan, terjadi benturan psikologis bagi siswa. Anak-anak yang sedang
berproses menuju baligh dan sedang belajar berpuasa
penuh, kini dihadapkan pada aroma dan visual makanan yang disajikan secara
gratis di depan mata mereka. Kelimpahan yang datang di waktu yang
"salah" ini berpotensi mengaburkan pelajaran tentang rasa empati
terhadap kaum papa yang seringkali tidak makan karena ketiadaan, bukan karena
kewajiban.
Implementasi
MBG di Bulan Ramadan
Kritik utama terhadap pelaksanaan MBG
di bulan Ramadan terletak pada aspek ketepatan momentum dan penghormatan
terhadap nilai lokal-spiritual. Pendidikan bukan sekadar tentang transfer
nutrisi ke dalam tubuh, tetapi juga transfer nilai ke dalam jiwa. Kurikulum
Merdeka yang menekankan pada Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi
"Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia", seharusnya
menjadi kompas dalam setiap kebijakan sekolah.
Memaksakan pembagian makanan di
sekolah pada siang hari Ramadan, meskipun dengan alasan target capaian program,
adalah langkah yang kurang taktis. Hal ini bisa dianggap kurang peka terhadap
ekosistem sekolah Islam atau sekolah umum yang mayoritas siswanya sedang berpuasa.
Jika makanan dibagikan untuk dibawa pulang, risikonya adalah penurunan kualitas
gizi karena makanan tidak lagi segar. Jika dibagikan untuk dimakan di sekolah
bagi yang tidak berpuasa (non-Muslim atau yang berhalangan), hal ini tetap
menciptakan sekat psikologis dan tantangan godaan yang berat bagi mereka yang
sedang belajar teguh dalam lapar.
Rasulullah SAW bersabda mengenai
pentingnya suasana yang mendukung ibadah:
“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya
pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang
berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).
Hadits ini mengajarkan bahwa pemberian
makan seharusnya menjadi pendukung ibadah puasa (saat berbuka), bukan menjadi
kompetitor atau godaan yang muncul di tengah hari saat puasa sedang
berlangsung. Alternatif lainnya, selama Ramadan MBG dihentikan dimulai kembali ketika
usai lebaran, agar kualitas gizi makanan terjaga dan penyaluran juga tepat
sasaran.
Godaan
Konsumerisme dan Distraksi Spiritual
Hadirnya MBG di tengah Ramadan, jika
tidak dikelola dengan bijak, bisa terjebak dalam arus konsumerisme yang dikemas
dalam bentuk bantuan sosial. Ramadan adalah bulan untuk "mengencangkan
ikat pinggang" sebuah metafora bagi kesungguhan ibadah dan pengurangan
keterikatan pada materi. Ketika negara hadir memberikan makanan secara
cuma-cuma di jam-jam puasa, pesan yang sampai kepada anak didik bisa menjadi
bias: bahwa urusan perut tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditunda,
bahkan oleh bulan suci sekalipun.
Padahal, Ramadan mengajarkan kita
tentang Ithar (mendahulukan
orang lain) dan penguasaan diri. Pelaksanaan MBG yang tidak adaptif terhadap
waktu Ramadan dikhawatirkan akan melemahkan daya juang spiritual anak-anak.
Mereka yang seharusnya belajar "merasakan lapar" agar muncul rasa
syukur, justru disuapi oleh kemudahan yang bisa membuat mereka terlena pada
nikmat dunia yang bersifat fana.
Solusi Kontekstual: Menghentikan MBG
Siang Hari dan Mengalihkannya Menjadi Berkah Berbuka
Demi menjaga
kekhusyukan ibadah dan efektivitas program, pelaksanaan Makan Bergizi
Gratis (MBG) di sekolah pada siang hari selama bulan Ramadan sebaiknya
dihentikan sementara. Program ini dapat digulirkan kembali secara normal
usai libur Lebaran. Sebagai langkah yang solutif dan berkemajuan, pemerintah
serta lembaga pendidikan sebaiknya melakukan rekayasa momentum dengan mengubah
formatnya menjadi "Paket Gizi Buka Puasa bagi yang
Membutuhkan".
Langkah taktis ini
akan mencapai tiga tujuan mulia sekaligus:
- Tujuan Kesehatan:
Gizi tetap tersalurkan secara optimal kepada siswa saat tubuh paling
membutuhkannya untuk pemulihan energi, yaitu tepat pada saat berbuka
puasa.
- Tujuan Spiritual:
Menghormati siswa yang sedang belajar berpuasa dengan tidak menciptakan
godaan visual maupun aroma makanan di siang hari, sehingga mentalitas
menahan diri (imsak) tetap terjaga.
- Tujuan Sosial:
Memperkuat ukhuwah Islamiyah dan rasa kepedulian sosial melalui tradisi
berbagi paket berbuka yang didukung penuh oleh negara.
Hal ini sejalan
dengan peringatan Allah SWT untuk selalu bersikap bijak, tidak berlebihan, dan
menempatkan sesuatu sesuai pada porsinya. Dalam QS. Al-A'raf ayat 31
disebutkan:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا
زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ
اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“Wahai anak cucu
Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan
minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.”
Ayat ini
mengandung pesan mendalam tentang kebijaksanaan dalam konsumsi. Makna
"jangan berlebihan" juga dapat diartikan sebagai perintah untuk tidak
menuruti syahwat makan dan minum di waktu serta tempat yang tidak tepat,
terutama saat kewajiban puasa sedang ditegakkan.
Menjaga
Marwah Ibadah di Era Modern
Ramadan adalah perjalanan reflektif.
Di tengah arus perubahan zaman dan kebijakan publik seperti MBG, kita harus
tetap berdiri tegak pada prinsip ideologi yang kuat. Sebagai guru dan orang
tua, tugas kita adalah memastikan bahwa anak-anak kita tidak kehilangan arah.
Kita harus memahamkan mereka bahwa makanan di depan mata adalah ujian, dan
menahan diri adalah kemenangan yang belum waktunya.
Marilah kita jaga agar Ramadan tetap
menjadi bulan di mana "Suara Langit" lebih nyaring terdengar daripada
suara riuh piring-piring makanan di siang hari. Dengan koordinasi yang baik
antara kebijakan pemerintah dan kesadaran spiritual umat, program MBG bisa
menjadi wasilah (perantara) kesehatan tanpa harus menjadi batu sandungan bagi
keteguhan iman. Semoga kita mampu melewati Ramadan ini dengan fisik yang sehat
dan jiwa yang tetap murni, jauh dari keterlenaan duniawi.
