Chanel Youtube


Saat Waktu Tak Bisa Ditawar: Menelisik Tafsir Al-A‘raf 34 tentang Rahasia Runtuhnya Peradaban Dunia


 

Peradaban manusia selalu bergerak dalam siklus yang dinamis: lahir, tumbuh, mencapai puncak kejayaan, lalu mengalami kemunduran bahkan kehancuran. Sejarah mencatat bahwa tidak ada satu pun bangsa yang abadi dalam kejayaannya. Fenomena ini bukan sekadar teori sosiologis, melainkan juga ditegaskan dalam Al-Qur’an sebagai sunnatullah yang berlaku bagi seluruh umat manusia. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-A‘raf ayat 34:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Artinya: “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu); apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” Ayat ini menegaskan bahwa setiap peradaban memiliki batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah. Batas itu bukan sekadar hitungan kronologis, tetapi berkaitan erat dengan kualitas moral dan spiritual suatu masyarakat. Ketika suatu bangsa mematuhi petunjuk Allah, mereka diberi kekuatan dan keberkahan. Namun ketika mereka menjauh dari nilai-nilai ilahi, kehancuran menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Dengan demikian, siklus peradaban bukan hanya persoalan ekonomi dan politik, tetapi juga persoalan iman dan ketaatan.

Dalam sejarah Islam, kita dapat melihat bagaimana kaum terdahulu menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Kaum ‘Ad dan Tsamud adalah contoh nyata bangsa yang diberi kekuatan luar biasa, namun akhirnya dihancurkan karena kesombongan dan penolakan terhadap risalah para nabi. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 60 tentang kaum ‘Ad yang dibinasakan karena mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka. Mereka memiliki peradaban yang megah, teknologi bangunan yang maju, dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun kemajuan material itu tidak dibarengi dengan ketundukan kepada Allah. Kesombongan membuat mereka merasa tidak membutuhkan petunjuk Ilahi. Akibatnya, angin topan yang dahsyat menjadi alat kehancuran mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kemajuan tanpa iman hanya akan melahirkan kehampaan moral. Sejarah mereka menjadi peringatan agar manusia tidak terbuai oleh kemegahan dunia.

Konsep siklus peradaban juga selaras dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa umat ini akan mengalami fase kenabian, kemudian khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, lalu masa kerajaan yang menggigit, kemudian kerajaan yang zalim, dan akhirnya kembali kepada khilafah ala minhaj an-nubuwwah. Hadits ini menunjukkan bahwa perubahan dalam kepemimpinan dan sistem sosial adalah bagian dari sunnatullah dalam sejarah. Ketika kepemimpinan menjauh dari nilai kenabian, muncul ketidakadilan dan penyimpangan. Ketidakadilan itulah yang menjadi awal keruntuhan suatu peradaban. Keadilan adalah fondasi kokoh yang menjaga stabilitas sosial. Jika fondasi ini retak oleh korupsi, kezaliman, dan kemerosotan akhlak, maka keruntuhan hanya tinggal menunggu waktu, sehingga kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas moral pemimpinnya. Rasulullah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip tanggung jawab ini menjadi pilar dalam menjaga keberlangsungan peradaban.

Sejarah dunia juga memperlihatkan bagaimana peradaban besar seperti Romawi dan Persia runtuh ketika nilai moral dan spiritual mereka melemah. Mereka memiliki militer kuat dan sistem administrasi yang maju. Namun ketika kemewahan berubah menjadi hedonisme dan kekuasaan berubah menjadi tirani, fondasi peradaban mereka mulai rapuh. Islam datang pada masa itu membawa nilai tauhid, keadilan, dan kesetaraan yang membangkitkan peradaban baru. Dalam waktu singkat, peradaban Islam tumbuh menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. Kota-kota seperti Baghdad dan Cordoba menjadi simbol kejayaan ilmu dan spiritualitas. Namun ketika umat Islam sendiri mulai terpecah dan menjauh dari nilai-nilai Al-Qur’an, kemunduran pun terjadi. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Ayat ini menegaskan bahwa perubahan internal menentukan nasib eksternal suatu bangsa.

Keruntuhan peradaban bukanlah hukuman yang datang tiba-tiba tanpa sebab. Ia merupakan akumulasi dari penyimpangan nilai yang terus-menerus dilakukan. Ketika keadilan digantikan dengan kezaliman, amanah digantikan dengan pengkhianatan, dan ilmu dipisahkan dari iman, maka kehancuran mulai menyusup secara perlahan. Dalam QS. Al-Anfal ayat 53 Allah menjelaskan bahwa Dia tidak akan mengubah nikmat yang telah diberikan kepada suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Nikmat berupa kekayaan, kekuasaan, dan kemajuan teknologi bisa berubah menjadi bencana jika tidak disertai syukur dan ketaatan. Syukur bukan hanya ucapan, tetapi implementasi nilai-nilai ilahi dalam kehidupan sosial. Ketika syukur hilang, keberkahan pun dicabut. Inilah makna mendalam dari “ajal” peradaban dalam QS. Al-A‘raf ayat 34. Ajal itu adalah titik di mana kerusakan moral telah melampaui batas. Pada saat itu, peradaban tidak mampu lagi menyelamatkan dirinya.

Namun demikian, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kehancuran, tetapi juga tentang harapan dan kebangkitan. Allah memberi peluang taubat dan perbaikan bagi setiap bangsa sebelum ajalnya tiba. Dalam QS. Al-A‘raf ayat 96 disebutkan bahwa jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi. Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan adalah hasil dari iman kolektif. Keberkahan bukan sekadar banyaknya sumber daya, tetapi keberlanjutan dan kesejahteraan yang menyeluruh. Ketika masyarakat membangun sistem sosial yang berlandaskan tauhid dan keadilan, mereka memperpanjang usia peradaban mereka. Sejarah mencatat bahwa masa keemasan Islam terjadi ketika ilmu, akhlak, dan spiritualitas berjalan beriringan. Ulama dan ilmuwan menjadi satu kesatuan dalam membangun masyarakat. Harmoni antara wahyu dan akal inilah yang menjadi rahasia kejayaan.

Pada akhirnya, QS. Al-A‘raf ayat 34 mengajarkan bahwa peradaban bukan sekadar konstruksi fisik, melainkan refleksi dari kondisi spiritual suatu umat. Kejayaan tidak ditentukan oleh gedung tinggi atau kekuatan militer semata. Ia ditentukan oleh sejauh mana masyarakat memegang teguh petunjuk Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Jika nilai-nilai ilahi dijadikan fondasi, peradaban akan kokoh dan berkelanjutan. Namun jika petunjuk Tuhan diabaikan, kemajuan material hanya menjadi fatamorgana yang menipu. Sejarah adalah saksi bahwa bangsa yang sombong dan lalai akan kehilangan kejayaannya. Oleh karena itu, refleksi terhadap ayat ini menjadi panggilan untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Siklus peradaban bukan takdir yang statis, melainkan peluang untuk memilih jalan kebangkitan atau kehancuran. Pilihan itu selalu kembali kepada kualitas iman dan komitmen kita terhadap petunjuk Allah Swt.


Oleh : Ali Hasan Assidiqi, S.Pd (Guru PAI SDN Sumbersari 2 Malang)


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url