Hadiah Yang Luar Biasa, Berangkat Ke Baitullah (Bagian 1)
Kisah ini masih
melanjutkan perjalanan Cak Moet menjadi JAMESBON. Semoga bisa menginspirasi dan
menjadi motivasi bagi GPAI Kota Malang atau siapa saja yang membaca tulisan
ini.
Bisa
melaksanakan ibadah di dua Tanah Suci, merupakan impian dari setiap Muslim. Terlebih
bagiku, yang setiap hari berkecimpung di Rumah Allah (masjid), tentu ingin
sekali menjadi tamu Allah dengan berkunjung langsung ke Baitullah (Mekah). Ibadah
yang tidak hanya didukung dengan kekuatan fisik, tapi juga harus didukung
dengan materi.
Bagi
seorang marbot seperti Aku, fisik tidak masalah karena usiaku yang muda, tapi
terkait materi atau finansial secara logika tidak masuk akal. Bisyaroh
atau gaji marbot yang jelas jauh dibawah standar Upah Minimum Regional (UMR). Tapi
sekali lagi aku yakin, bahwa Allah SWT Maha Kaya dan Kuasa.
Hari
berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Tanpa terasa, Aku
sudah sebelas tahun menjadi James Bon, banyak suka dan duka yang sudah kulalui.
Dan Aku pun sudah menemukan jodohku serta dikaruniai seorang putri yang cantik
berusia lima tahun.
Malam
itu seperti biasa, setelah pelaksanaan shalat isya berjama’ah dan bertugas
menjadi Imam, aku pun mematikan lampu masjid dan menyisakan beberapa agar tidak
terlalu gelap. Aku meluangkan waktu untuk istri dan buah hatiku yang sudah
menunggu di kamar marbot, yang sekarang sudah dibuatkan khusus oleh takmir di
luar masjid sebelah selatan. Aku dan istriku bermain dan bergurau dengan putri
kesayangan kami yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
Di
tengah kami asyik bercengkerama dan sesekali tertawa gembira, tiba-tiba
datanglah Pakde Hilal dan Mas Riyan yang ingin bertemu denganku. Pakde Hilal
dan Mas Riyan adalah salah satu warga perumahan yang aktif shalat berjama’ah di
masjid, Aku pun keluar menemui mereka dengan ramah. Seketika wajahku berubah,
setelah dua orang tersebut menyampaikan maksud dan tujuannya. Akhirnya mereka
pun berpamitan untuk pulang.
Melihat raut wajah suami yang berubah senang dan matanya
berkaca-kaca, istriku pun dengan penuh penasaran bertanya-tanya kepadaku. Aku
pun menceritakan dengan perasaan yang bercampur aduk antara senang dan sedih,
percaya dan tidak percaya.
Pakde
Hilal dan Mas Riyan membawa kabar, bahwa “Abi” (panggilan sayang istriku
kepadaku) sudah didaftarkan Umroh dan tinggal mengurus paspor saja dan
insya’allah berangkat sekitar dua minggu lagi. Betapa gembiranya kami dengan
berita ini, sungguh suatu hal yang tidak disangka-sangka dan di luar nalar
manusia.
Bagaimana
mungkin seseorang dengan penghasilan bulanan dari masjid yang hanya cukup untuk
kebutuhan sehari-hari, bisa berangkat ke Tanah Suci. Untuk kehidupan
sehari-hari, Aku mencukupi kebutuhan keluargaku dengan “bisyarah” dari
masjid dan dari penghasilan istriku mengajar di sekolah Islam milik yayasan
swasta. Dari jumlah nominal yang kami terima memang tidak banyak, tetapi
alhamdulillah kami tidak pernah kekurangan. Mungkin ini yang dinamakan sedikit
tapi berkah.
Tapi
kalau Allah Swt sudah berkehendak, semua akan terjadi dan tidak ada hal yang
tidak mungkin. Sungguh berkah dan hadiah yang luar biasa dari Allah Swt,
ternyata Allah Swt tidak akan membiarkan hambaNya yang senantiasa memakmurkan
rumahNya dengan ikhlas dan sabar. Allah Swt sendiri yang mengundang hambaNya ke
Rumah SuciNya di kota Mekah dan Madinah.
Berita gembira itu juga menjadi berita yang menyedihkan
bagi keluargaku, karena yang berangkat melaksanakan ibadah Umroh hanya Aku
seorang. Dan selama Aku berangkat ke Tanah suci, istriku harus bisa mandiri tanpa suami selama
sepuluh hari. Ia harus bisa mengurusi segala keperluan sendiri, mulai dari
berangkat mengajar, mengantar anak ke Taman Kanak-kanak. Sedangkan jaraknya sekitar
15 km.
Sungguh
berat dan melelahkan jika dirasakan, tapi alhamdulillah istriku melakukannya
dengan senang hati, agar aku nanti bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk
tanpa harus memikirkan keadaan mereka berdua. Dan satu lagi yang membuat istriku
sedih adalah darimana suaminya harus mencari uang saku, setidaknya cukup untuk
beli makanan disana dan tidak usah membeli oleh-oleh untuk yang di rumah.
Kemana ia harus mencari pinjaman?.
Dan
lagi-lagi Allah Swt tidak akan membiarkan hambaNya dalam kesulitan, Allah Swt
Maha Kaya dan Yang menggerakkan hati manusia.
Setelah
memberitahukan kepada Takmir masjid sekaligus meminta izin selama berangkat
Umrah, berita ini pun tersebar ke seluruh pengurus masjid. Dan akhirnya banyak
jama’aah ingin titip do’a sekaligus nitip “sedikit” untuk uang saku.
Alhamdulillah, dari titipan para jama’ah dan ketua takmir, terkumpul kurang
lebih dua juta lima ratus ribu rupiah. Dan insya’Allah sudah cukup untuk
kebutuhan di tanah suci.
Sebagai
salah satu persyaratan Umrah, Aku harus mengurus Visa/Paspor. Atas rekomendasi
Ustadz bayhaqi Kadmi (Jurnalis dan Penulis Kolom Rehat, Media Ummat tahun
2000an), Aku diminta ke Sidoarjo, untuk menemui adiknya, Mas Iqdam yang bekerja
di KEJARI (Kejaksaan Negeri) Sidoarjo. Dan kebetulan Mas Iqdam ini punya
jabatan yang tinggi, yakni sebagai KAJATI (Kepala Kejaksaan Tinggi)
Aku
pun berangkat ke Sidoarjo untuk menemui Mas Iqdam di H-7. Mas Iqdam pun
menyambutku dengan ramah. Walaupun aku baru bertemu sekali, tapi Mas Iqdam
seperti sudah akrab denganku. Setelah kami mengobrol cukup lama, Mas Iqdam
meminta anak buahnya untuk mengantarku ke kantor Imigrasi Kelas I di Surabaya.
Kami
pun meluncur dengan mengendarai Kijang Innova hitam menuju daerah bandara
Internasional Juanda. Selama perjalanan, aku usahakan ngobrol dengan anak buah
mas Iqdam yang duduk di bangku Sopir, agar suasana tidak senyap. Akhirnya, kami
pun sampai di Kantor Imigrasi.
Alhamdulillah
hanya sekitar dua jam proses pembuatan Visa/Paspor pun selesai. Dan kami
kembali ke Kantor KEJARI Sidoarjo. Aku pun mengucapkan terima kasih
setulus-tulusnya atas bantuan yang diberikan dan meminta maaf karena telah
mengganggu waktunya. Alhamdulillah Mas Iqdam pun tersenyum dan juga meminta
maaf karena hanya bisa membantu sebisanya, nampak Mas Iqdam memberikan amplop
putih kepadaku dan berpesan “semoga bisa menjadi tambahan uang saku, dan jangan
lupa selama di tanah suci do’akan kami sekeluarga semoga diberikan kesehatan
dan keberkahan dan bisa segera menjadi tamunya Allah Swt”. “iya Mas,
insya’allah” jawabku.
Aku pun kembali ke Kota Malang menemui keluarga kecilku dengan hati berbunga-bunga. Dan sesampainya di rumah, Aku pun menceritakan kepada istriku perihal tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk membuka amplop dari Mas Iqdam. Dan alhamdulillah, setelah dibuka, terdapat sepuluh lembar uang berwarna merah bergambar Soekarno Hatta. “Alhamdulillah Abi, Satu juta. Bisa untuk uang saku abi waktu di tanah suci” ucap syukur istriku.
Nantikan kelanjutannya di bagian 2
Oleh : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)
.jpg)