Chanel Youtube


Hadiah Yang Luar Biasa, Berangkat Ke Baitullah (Bagian 1)


 

        Kisah ini masih melanjutkan perjalanan Cak Moet menjadi JAMESBON. Semoga bisa menginspirasi dan menjadi motivasi bagi GPAI Kota Malang atau siapa saja yang membaca tulisan ini.

Bisa melaksanakan ibadah di dua Tanah Suci, merupakan impian dari setiap Muslim. Terlebih bagiku, yang setiap hari berkecimpung di Rumah Allah (masjid), tentu ingin sekali menjadi tamu Allah dengan berkunjung langsung ke Baitullah (Mekah). Ibadah yang tidak hanya didukung dengan kekuatan fisik, tapi juga harus didukung dengan materi.

Bagi seorang marbot seperti Aku, fisik tidak masalah karena usiaku yang muda, tapi terkait materi atau finansial secara logika tidak masuk akal. Bisyaroh atau gaji marbot yang jelas jauh dibawah standar Upah Minimum Regional (UMR). Tapi sekali lagi aku yakin, bahwa Allah SWT Maha Kaya dan Kuasa.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Tanpa terasa, Aku sudah sebelas tahun menjadi James Bon, banyak suka dan duka yang sudah kulalui. Dan Aku pun sudah menemukan jodohku serta dikaruniai seorang putri yang cantik berusia lima tahun.

Malam itu seperti biasa, setelah pelaksanaan shalat isya berjama’ah dan bertugas menjadi Imam, aku pun mematikan lampu masjid dan menyisakan beberapa agar tidak terlalu gelap. Aku meluangkan waktu untuk istri dan buah hatiku yang sudah menunggu di kamar marbot, yang sekarang sudah dibuatkan khusus oleh takmir di luar masjid sebelah selatan. Aku dan istriku bermain dan bergurau dengan putri kesayangan kami yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.

Di tengah kami asyik bercengkerama dan sesekali tertawa gembira, tiba-tiba datanglah Pakde Hilal dan Mas Riyan yang ingin bertemu denganku. Pakde Hilal dan Mas Riyan adalah salah satu warga perumahan yang aktif shalat berjama’ah di masjid, Aku pun keluar menemui mereka dengan ramah. Seketika wajahku berubah, setelah dua orang tersebut menyampaikan maksud dan tujuannya. Akhirnya mereka pun berpamitan untuk pulang.

            Melihat raut wajah suami yang berubah senang dan matanya berkaca-kaca, istriku pun dengan penuh penasaran bertanya-tanya kepadaku. Aku pun menceritakan dengan perasaan yang bercampur aduk antara senang dan sedih, percaya dan tidak percaya.

Pakde Hilal dan Mas Riyan membawa kabar, bahwa “Abi” (panggilan sayang istriku kepadaku) sudah didaftarkan Umroh dan tinggal mengurus paspor saja dan insya’allah berangkat sekitar dua minggu lagi. Betapa gembiranya kami dengan berita ini, sungguh suatu hal yang tidak disangka-sangka dan di luar nalar manusia.

Bagaimana mungkin seseorang dengan penghasilan bulanan dari masjid yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bisa berangkat ke Tanah Suci. Untuk kehidupan sehari-hari, Aku mencukupi kebutuhan keluargaku dengan “bisyarah” dari masjid dan dari penghasilan istriku mengajar di sekolah Islam milik yayasan swasta. Dari jumlah nominal yang kami terima memang tidak banyak, tetapi alhamdulillah kami tidak pernah kekurangan. Mungkin ini yang dinamakan sedikit tapi berkah.

Tapi kalau Allah Swt sudah berkehendak, semua akan terjadi dan tidak ada hal yang tidak mungkin. Sungguh berkah dan hadiah yang luar biasa dari Allah Swt, ternyata Allah Swt tidak akan membiarkan hambaNya yang senantiasa memakmurkan rumahNya dengan ikhlas dan sabar. Allah Swt sendiri yang mengundang hambaNya ke Rumah SuciNya di kota Mekah dan Madinah.

            Berita gembira itu juga menjadi berita yang menyedihkan bagi keluargaku, karena yang berangkat melaksanakan ibadah Umroh hanya Aku seorang. Dan selama Aku berangkat ke Tanah suci,  istriku harus bisa mandiri tanpa suami selama sepuluh hari. Ia harus bisa mengurusi segala keperluan sendiri, mulai dari berangkat mengajar, mengantar anak ke Taman Kanak-kanak. Sedangkan jaraknya sekitar 15 km.

Sungguh berat dan melelahkan jika dirasakan, tapi alhamdulillah istriku melakukannya dengan senang hati, agar aku nanti bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk tanpa harus memikirkan keadaan mereka berdua. Dan satu lagi yang membuat istriku sedih adalah darimana suaminya harus mencari uang saku, setidaknya cukup untuk beli makanan disana dan tidak usah membeli oleh-oleh untuk yang di rumah. Kemana ia harus mencari pinjaman?.

Dan lagi-lagi Allah Swt tidak akan membiarkan hambaNya dalam kesulitan, Allah Swt Maha Kaya dan Yang menggerakkan hati manusia.

Setelah memberitahukan kepada Takmir masjid sekaligus meminta izin selama berangkat Umrah, berita ini pun tersebar ke seluruh pengurus masjid. Dan akhirnya banyak jama’aah ingin titip do’a sekaligus nitip “sedikit” untuk uang saku. Alhamdulillah, dari titipan para jama’ah dan ketua takmir, terkumpul kurang lebih dua juta lima ratus ribu rupiah. Dan insya’Allah sudah cukup untuk kebutuhan di tanah suci.

Sebagai salah satu persyaratan Umrah, Aku harus mengurus Visa/Paspor. Atas rekomendasi Ustadz bayhaqi Kadmi (Jurnalis dan Penulis Kolom Rehat, Media Ummat tahun 2000an), Aku diminta ke Sidoarjo, untuk menemui adiknya, Mas Iqdam yang bekerja di KEJARI (Kejaksaan Negeri) Sidoarjo. Dan kebetulan Mas Iqdam ini punya jabatan yang tinggi, yakni sebagai KAJATI (Kepala Kejaksaan Tinggi)

Aku pun berangkat ke Sidoarjo untuk menemui Mas Iqdam di H-7. Mas Iqdam pun menyambutku dengan ramah. Walaupun aku baru bertemu sekali, tapi Mas Iqdam seperti sudah akrab denganku. Setelah kami mengobrol cukup lama, Mas Iqdam meminta anak buahnya untuk mengantarku ke kantor Imigrasi Kelas I di Surabaya.

Kami pun meluncur dengan mengendarai Kijang Innova hitam menuju daerah bandara Internasional Juanda. Selama perjalanan, aku usahakan ngobrol dengan anak buah mas Iqdam yang duduk di bangku Sopir, agar suasana tidak senyap. Akhirnya, kami pun sampai di Kantor Imigrasi.

Alhamdulillah hanya sekitar dua jam proses pembuatan Visa/Paspor pun selesai. Dan kami kembali ke Kantor KEJARI Sidoarjo. Aku pun mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya atas bantuan yang diberikan dan meminta maaf karena telah mengganggu waktunya. Alhamdulillah Mas Iqdam pun tersenyum dan juga meminta maaf karena hanya bisa membantu sebisanya, nampak Mas Iqdam memberikan amplop putih kepadaku dan berpesan “semoga bisa menjadi tambahan uang saku, dan jangan lupa selama di tanah suci do’akan kami sekeluarga semoga diberikan kesehatan dan keberkahan dan bisa segera menjadi tamunya Allah Swt”. “iya Mas, insya’allah” jawabku.

            Aku pun kembali ke Kota Malang menemui keluarga kecilku dengan hati berbunga-bunga. Dan sesampainya di rumah, Aku pun menceritakan kepada istriku perihal tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk membuka amplop dari Mas Iqdam. Dan alhamdulillah, setelah dibuka, terdapat sepuluh lembar uang berwarna merah bergambar Soekarno Hatta. “Alhamdulillah Abi, Satu juta. Bisa untuk uang saku abi waktu di tanah suci” ucap syukur istriku.

Nantikan kelanjutannya di bagian 2


Oleh : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)

           


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url