Chanel Youtube


Hadiah Yang Luar Biasa, Berangkat Ke Baitullah (Bagian 2)


 

Akhirnya hari yang dinantikan telah tiba, perasaanku bercampur aduk. Masih seakan-akan tidak percaya dengan semua ini. Ketika adzan sholat maghrib dan isya’, sesekali aku menangis haru dan bersyukur atas nikmat Allah yang indah ini. Setelah isya’ pun ketika mau istirahat lebih awal, seakan mata ini tidak bisa aku pejamkan. Akhirnya aku gunakan untuk waktuku bersama istri dan putriku. Aku minta kepada istriku, agar selalu mendo’akanku agar sehat selalu ketika di tanah suci. Dan aku berpesan kepada putriku Nahja, agar nurut sama Umi, tidak boleh nakal selama Abi melaksanakan umrah.

Malam itu sepertinya malam terakhirku dengan keluargaku, kami ngobrol sampai tak teras jam 10 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat walaupun sejenak, karena jam 12 malam harus bangun dan persiapan.

 Jam 01.30 dini hari, Aku diantar Pakde Hilal dan Mas Riyan dengan menggunakan Mobil Kijang Super warna merah tahun 1996, berangkat menuju Agung Wisata Tour and Travel, Jl. WR. Supratman Rampal Celaket Klojen.

Disana sudah menunggu sebuah Bis untuk rombongan jama’ah Umroh yang berangkat pagi itu. Biasanya para jama’ah umrah berangkat dengan satu ustadz atau pembimbing, yang menemani para jama’ah dari tanah air hingga tanah suci. Tapi untuk saat ini, karena banyak ustadz yang berhalangan, maka Aku diminta Ustadz Hamzah, pemilik Agung Wisata Travel untuk membimbing para jama’ah, mulai berangkat ke Bandara Juanda Surabaya dan  ketika nanti di dalam pesawat hingga di bandara internasional King Abdul Aziz Jeddah, Mekah. Seperti memimpin do’a bepergian, membimbing niat salat jamak serta menghimbau jama’ah untuk mengganti pakaian ihram ketika melewati miqat (batas tempat yang ditetapkan untuk memulai niat ihram). Dan ketika sampai di tanah suci nanti, sudah mutawwif (Pembimbing Umrah) yang akan menggantikan.

Rangkaian ibadah umrah Aku kali ini memang beda dengan jama’ah umrah Agung Wisata kloter sebelumnya dan kloter setelahnya. Mereka mengawali dengan ibadah mandiri lima hari di kota Madinah dan lima hari di kota Mekah. Sedangkan rombongan Aku dilakukan sebaliknya, lima hari di Mekah dan lima hari selanjutnya di Madinah.

            Perjalan udara akan ditempuh sekitar 9 jam, karena pesawat harus transit di bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Dan lanjut ke bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Sungguh pengalaman pertama bagiku naik pesawat terbang, aku tak menyangka dulu waktu masih anak-anak, aku dan teman sepermainanku sering berteriak minta uang ketika ada pesawat terbang yang lewat dan sekarang aku sendiri yang duduk di dalam pesawat. Lagi-lagi perasaan bahagia diiringi rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. rasa tak percaya tapi memang terjadi, ibarat mimpi tapi ia yakin bahwa Allah Swt Maha Kuasa atas segalanya.

Kegiatan selama perjalanan di pesawat semua terkendali, tapi memang dasar Aku yang baru kali pertama naik pesawat, merasakan getaran pesawat ketika “take off” (lepas landas) dan ketika turbulensi (guncangan akibat pergerakan udara tidak teratur yang mengganggu kestabilan terbang, google) dan landing, Aku pun mengalami mabuk udara sampai 3 kali. Ketika pramugari yang cantik menawarkan makanan dan minuman kepadaku, Aku duduk terdiam lesu merasakan mual yang luar biasa. Kucoba mengisi perutku dengan makanan atau buah sebagai pengganti cairan yang keluar tadi. Selama 9 jam perjalan, kurang lebih ada 3 x Pramugari mondar-mandir membawa makanan dan memberikan pada penumpang dengan ramah. Kuisi waktuku dengan membaca aql-qur’an, dzikir, makan dan tidur. Dan memang, ketika kegiatan manasik (pelatihan atau simulasi kegiatan umrah), pembimbing manasik berpesan selama di pesawat yang kita lakukan hanya makan dan tidur, kalau mau mau membaca dzikir malah lebih baik karena waktu perjalanan yang lama.

Akhirnya, kurang satu jam lagi tiba di bandara Jeddah. Dan pesawat berada di langit Kota Yalamlam, tempat mengambil miqat. Dengan kekuatan yang tersisa, aku ajak seluruh jama’ah (terutama laki-laki) untuk mengganti pakaian ihram. Karena toilet pesawat tidak cukup tempat mengganti pakaian, maka jama jama’ah mengganti pakaian ihram di tempat duduk masing-masing. Setelah semua jama’ah sudah memakai pakaian ihram, aku pun mengajak mereka bersama sama membaca niat umrah. “Bismillahirrahmanir rahiim, nawaitui umrata wa ahramtu bihi lillahi ta’ala”. Alhamdulillah.

Ketika turun dari pesawat. Wajahku masih pucat pasih, tapi tetap aku berusaha tersenyum ketika menyapa teman satu rombongan umrah. Aku seakan-akan tidak sanggup memimpin jama’ah, karena merasakan diriku saja aku sudah tidak kuat lagi. Kabar baiknya sudah dua orang mutawif yang menyambut rombongan ketika di bandara King Abdul Aziz, Jeddah dan akan menghandel ketika di tanah suci. Mulai dari mengantar ke hotel, membimbing rangkaian ibadah hingga kegiatan City Tour.

Setiba dari kota Jeddah, rombongan jama’ah menuju ke hotel Al-Massa di Kota Mekah, sekitar 15 menit dari Masjidil Haram. Para jama’ah diminta membersihkan diri dan bersuci serta tetap memakai pakai ihram untuk melaksanakan kegiatan salat maghrib dan isya’ berjama’ah dan dilanjutkan ibadah umrah yang pertama. Dan yang dimintai untuk menjadi imam salat adalah Aku.

            Aku pun langsung menuju kamar hotel untuk membersihkan diri dengan air hangat, kemudian berwudhu dan menata hati dan menata niat. Semoga diberikan kekuatan dan kesehatan selama beribadah. Dan alhamdulillah, dengan selalu berhusnudzon kepada Allah Swt, Aku seperti mendapat kekuatan baru dan siap untuk melaksanakan ibadah. Aku bersama para jama’ah umroh satu travel yang menuju lobi hotel untuk menikmati makan malam yang sudah dipersiapkan oleh pihak hotel. Dan ternyata menu yang mereka siapkan disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, karena sebagian chef di hotel itu juga berasal dari negara Indonesia. Maasyaallah. Setelah mengisi tubuh dengan makanan, Aku dan para jama’ah bersiap menuju ke masjidil haram dengan berjalan kaki. Ketika sampai di masjidil haram melalui bab/pintu King Abdul Aziz dan melihat ka’bah secara langsung, kedua mataku berubah berkaca-kaca dan tanpa terasa air mata pun deras membasahi pipi. Tak henti-hentinya kalimat tahmid mengalir dari bibirku. “Alhamdulillah, Ya Allah. Segala puji dan syukur hanya milikMu dan sebagaimana hadiah yang luar biasa ini Kau anugerahkan kepadaku, anugerahkan juga kepada keluarga dan saudara-saudara muslimku yang Engkau sayangi.” Wajah-wajah bahagia dan haru pun juga meliputi sebagian para jama’ah yang juga baru pertama kali melaksanakan ibadah umrah.

Selesai memandang ka’bah dengan rasa haru, aku pun mengajak jama’ah untuk membentuk shaf dan merapikannya. Kemudian aku maju untuk menjadi imam pelaksanakan salat maghrib dan isya’ berjama’ah dan dikerjakan dengan jamak qashar. Sungguh ada rasa bangga tersendiri dalam hati, karena seumur hidup, baru kali ini aku menjadi imam di Masjidil Haram (dalam arti menjadi Imam rombongan jama’ah Umrah).

Setelah selesai shalat, Mutawif mengajak rombongan untuk melaksanakan ibadah umrah yang pertama, yang diniati untuk diri mereka sendiri. Mutawwif membimbing para jama’ah dengan penuh perhatian dan kesabaran, dari pelaksanaan thawaf atau mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali, dilanjutkan salat sunnah dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, meminum air zam-zam kemudian sa’i (lari-lari kecil) dari bukit shafa dan bukit marwah, hingga proses terakhir tahallul (mencukur rambut atau sebagian) sebagai tanda berakhirnya rangkaian ibadah umrah. Ucap syukur dari para jama’ah ketika umrah pertama dilaksanakan. Mutawif pun mengajak para jama’ah untuk kembali ke hotel dan beristirahat agar besok pagi badan menjadi segar dan bersemangat untuk mengikuti salat subuh berjama’ah di masjidil haram. Alhamdulillah hari pertama terlewati dengan baik dan semangat. Semoga Allah Swt memberikan kekuatan lahir dan batin dan diterima segala rangkaian ibadah yang sudah dijalani. Aamiin ya rabbal alamiin.

Bersambung ke bagian 3...


Oleh : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url