Hadiah Yang Luar Biasa, Berangkat Ke Baitullah (Bagian 2)
Akhirnya
hari yang dinantikan telah tiba, perasaanku bercampur aduk. Masih seakan-akan
tidak percaya dengan semua ini. Ketika adzan sholat maghrib dan isya’, sesekali
aku menangis haru dan bersyukur atas nikmat Allah yang indah ini. Setelah isya’
pun ketika mau istirahat lebih awal, seakan mata ini tidak bisa aku pejamkan.
Akhirnya aku gunakan untuk waktuku bersama istri dan putriku. Aku minta kepada
istriku, agar selalu mendo’akanku agar sehat selalu ketika di tanah suci. Dan
aku berpesan kepada putriku Nahja, agar nurut sama Umi, tidak boleh nakal
selama Abi melaksanakan umrah.
Malam
itu sepertinya malam terakhirku dengan keluargaku, kami ngobrol sampai tak
teras jam 10 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat walaupun
sejenak, karena jam 12 malam harus bangun dan persiapan.
Jam 01.30 dini hari, Aku diantar Pakde Hilal
dan Mas Riyan dengan menggunakan Mobil Kijang Super warna merah tahun 1996, berangkat
menuju Agung Wisata Tour and Travel, Jl. WR. Supratman Rampal Celaket Klojen.
Disana
sudah menunggu sebuah Bis untuk rombongan jama’ah Umroh yang berangkat pagi
itu. Biasanya para jama’ah umrah berangkat dengan satu ustadz atau pembimbing,
yang menemani para jama’ah dari tanah air hingga tanah suci. Tapi untuk saat
ini, karena banyak ustadz yang berhalangan, maka Aku diminta Ustadz Hamzah,
pemilik Agung Wisata Travel untuk membimbing para jama’ah, mulai berangkat ke
Bandara Juanda Surabaya dan ketika nanti
di dalam pesawat hingga di bandara internasional King Abdul Aziz Jeddah, Mekah.
Seperti memimpin do’a bepergian, membimbing niat salat jamak serta menghimbau
jama’ah untuk mengganti pakaian ihram ketika melewati miqat (batas
tempat yang ditetapkan untuk memulai niat ihram). Dan ketika sampai di tanah
suci nanti, sudah mutawwif (Pembimbing Umrah) yang akan menggantikan.
Rangkaian
ibadah umrah Aku kali ini memang beda dengan jama’ah umrah Agung Wisata kloter
sebelumnya dan kloter setelahnya. Mereka mengawali dengan ibadah mandiri lima
hari di kota Madinah dan lima hari di kota Mekah. Sedangkan rombongan Aku
dilakukan sebaliknya, lima hari di Mekah dan lima hari selanjutnya di Madinah.
Perjalan udara akan ditempuh sekitar 9 jam, karena
pesawat harus transit di bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Dan lanjut ke
bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Sungguh pengalaman pertama bagiku naik
pesawat terbang, aku tak menyangka dulu waktu masih anak-anak, aku dan teman
sepermainanku sering berteriak minta uang ketika ada pesawat terbang yang lewat
dan sekarang aku sendiri yang duduk di dalam pesawat. Lagi-lagi perasaan
bahagia diiringi rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. rasa tak
percaya tapi memang terjadi, ibarat mimpi tapi ia yakin bahwa Allah Swt Maha
Kuasa atas segalanya.
Kegiatan
selama perjalanan di pesawat semua terkendali, tapi memang dasar Aku yang baru
kali pertama naik pesawat, merasakan getaran pesawat ketika “take off” (lepas
landas) dan ketika turbulensi (guncangan akibat pergerakan udara tidak
teratur yang mengganggu kestabilan terbang, google) dan landing, Aku pun
mengalami mabuk udara sampai 3 kali. Ketika pramugari yang cantik menawarkan
makanan dan minuman kepadaku, Aku duduk terdiam lesu merasakan mual yang luar
biasa. Kucoba mengisi perutku dengan makanan atau buah sebagai pengganti cairan
yang keluar tadi. Selama 9 jam perjalan, kurang lebih ada 3 x Pramugari
mondar-mandir membawa makanan dan memberikan pada penumpang dengan ramah. Kuisi
waktuku dengan membaca aql-qur’an, dzikir, makan dan tidur. Dan memang, ketika
kegiatan manasik (pelatihan atau simulasi kegiatan umrah), pembimbing manasik
berpesan selama di pesawat yang kita lakukan hanya makan dan tidur, kalau mau
mau membaca dzikir malah lebih baik karena waktu perjalanan yang lama.
Akhirnya,
kurang satu jam lagi tiba di bandara Jeddah. Dan pesawat berada di langit Kota
Yalamlam, tempat mengambil miqat. Dengan kekuatan yang tersisa, aku ajak
seluruh jama’ah (terutama laki-laki) untuk mengganti pakaian ihram. Karena
toilet pesawat tidak cukup tempat mengganti pakaian, maka jama jama’ah
mengganti pakaian ihram di tempat duduk masing-masing. Setelah semua jama’ah
sudah memakai pakaian ihram, aku pun mengajak mereka bersama sama membaca niat
umrah. “Bismillahirrahmanir rahiim, nawaitui umrata wa ahramtu bihi lillahi
ta’ala”. Alhamdulillah.
Ketika
turun dari pesawat. Wajahku masih pucat pasih, tapi tetap aku berusaha tersenyum
ketika menyapa teman satu rombongan umrah. Aku seakan-akan tidak sanggup
memimpin jama’ah, karena merasakan diriku saja aku sudah tidak kuat lagi. Kabar
baiknya sudah dua orang mutawif yang menyambut rombongan ketika di
bandara King Abdul Aziz, Jeddah dan akan menghandel ketika di tanah suci. Mulai
dari mengantar ke hotel, membimbing rangkaian ibadah hingga kegiatan City
Tour.
Setiba
dari kota Jeddah, rombongan jama’ah menuju ke hotel Al-Massa di Kota Mekah,
sekitar 15 menit dari Masjidil Haram. Para jama’ah diminta membersihkan
diri dan bersuci serta tetap memakai pakai ihram untuk melaksanakan kegiatan
salat maghrib dan isya’ berjama’ah dan dilanjutkan ibadah umrah yang pertama.
Dan yang dimintai untuk menjadi imam salat adalah Aku.
Aku pun langsung menuju kamar hotel untuk membersihkan
diri dengan air hangat, kemudian berwudhu dan menata hati dan menata niat.
Semoga diberikan kekuatan dan kesehatan selama beribadah. Dan alhamdulillah,
dengan selalu berhusnudzon kepada Allah Swt, Aku seperti mendapat kekuatan baru
dan siap untuk melaksanakan ibadah. Aku bersama para jama’ah umroh satu travel
yang menuju lobi hotel untuk menikmati makan malam yang sudah dipersiapkan oleh
pihak hotel. Dan ternyata menu yang mereka siapkan disesuaikan dengan lidah orang
Indonesia, karena sebagian chef di hotel itu juga berasal dari negara
Indonesia. Maasyaallah. Setelah mengisi tubuh dengan makanan, Aku dan para
jama’ah bersiap menuju ke masjidil haram dengan berjalan kaki. Ketika sampai di
masjidil haram melalui bab/pintu King Abdul Aziz dan melihat ka’bah secara
langsung, kedua mataku berubah berkaca-kaca dan tanpa terasa air mata pun deras
membasahi pipi. Tak henti-hentinya kalimat tahmid mengalir dari bibirku. “Alhamdulillah,
Ya Allah. Segala puji dan syukur hanya milikMu dan sebagaimana hadiah yang luar
biasa ini Kau anugerahkan kepadaku, anugerahkan juga kepada keluarga dan
saudara-saudara muslimku yang Engkau sayangi.” Wajah-wajah bahagia dan haru
pun juga meliputi sebagian para jama’ah yang juga baru pertama kali
melaksanakan ibadah umrah.
Selesai
memandang ka’bah dengan rasa haru, aku pun mengajak jama’ah untuk membentuk
shaf dan merapikannya. Kemudian aku maju untuk menjadi imam pelaksanakan salat
maghrib dan isya’ berjama’ah dan dikerjakan dengan jamak qashar. Sungguh ada
rasa bangga tersendiri dalam hati, karena seumur hidup, baru kali ini aku
menjadi imam di Masjidil Haram (dalam arti menjadi Imam rombongan jama’ah
Umrah).
Setelah
selesai shalat, Mutawif mengajak rombongan untuk melaksanakan ibadah umrah yang
pertama, yang diniati untuk diri mereka sendiri. Mutawwif membimbing para
jama’ah dengan penuh perhatian dan kesabaran, dari pelaksanaan thawaf atau
mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali, dilanjutkan salat sunnah dua rakaat di
belakang maqam Ibrahim, meminum air zam-zam kemudian sa’i (lari-lari kecil)
dari bukit shafa dan bukit marwah, hingga proses terakhir tahallul (mencukur
rambut atau sebagian) sebagai tanda berakhirnya rangkaian ibadah umrah. Ucap
syukur dari para jama’ah ketika umrah pertama dilaksanakan. Mutawif pun
mengajak para jama’ah untuk kembali ke hotel dan beristirahat agar besok pagi
badan menjadi segar dan bersemangat untuk mengikuti salat subuh berjama’ah di
masjidil haram. Alhamdulillah hari pertama terlewati dengan baik dan semangat.
Semoga Allah Swt memberikan kekuatan lahir dan batin dan diterima segala
rangkaian ibadah yang sudah dijalani. Aamiin ya rabbal alamiin.
Bersambung ke bagian 3...
Oleh : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)
.jpg)