Hadiah Yang Luar Biasa, Berangkat Ke Baitullah (Bagian 3)
Hari
kedua setelah jama’ah melaksanakan salat subuh berjama’ah di masjidil haram,
mereka diharuskan kembali ke hotel pada jam 6 pagi (waktu di Indonesia selisih
4 jam lebih cepat dibandingkan waktu di Arab saudi) untuk sarapan pagi dan
dilanjutkan kegiatan City tour ke peternakan unta dan berbelanja. Jama’ah
diharapkan membawa serta pakaian ihram, karena setelah City tour nanti akan
mengambil miqat dan melakukan ibadah umrah yang kedua. Di sela-sela
kegiatan City tour tak lupa Aku menelpon istri dan putri tercinta yang ada
tanah air sebagai pengobat rindu. Aku menceritakan keseruan pengalaman pertama
yang kualami. Aku berharap ini bukan yang pertama dan terakhir, semoga
kedepannya Aku bersama keluarga besar bisa beribadah di tanah suci lagi.
Selama kegiatan City tour, ada hal-hal unik yang Aku dan
para jama’ah temui. Seperti ketika di peternakan unta, ternyata harga susu unta
murni 1 botol kecil (sekitar 300-400 ml) harganya 3 riyal (1 riyal setara Rp.
4000), namun susu unta yang dicampur (maaf) air kencing unta, dengan ukuran
botol yang sama, harganya malah lebih mahal, sekitar 5 riyal. Para jama’ah pun
terheran-heran. Dan hal unik yang kedua, kebanyakan pedagang di Mekah mau
menerima mata uang Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah tanpa harus
menukarnya dengan mata uang Riyal. Asalkan pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000.
Para jama’ah pun memanfaatkan kesempatan ini untuk memborong
sebanyak-banyaknya. Tapi bagi Aku, dengan uang saku yang minim, aku hanya
membeli oleh-oleh seperlunya untuk keluarga di tanah air. Kesempatan umrah ini
juga merupakan momen pertemuanku dengan kakak dari istriku (ipar) yang belum
pernah kutemui semenjak menikah. Kabarnya ia menjadi pekerja di Arab semenjak
istriku masih kuliah di Malang, berarti sekitar 10 tahun. Jadi keperluan belanja
dan oleh-oleh untuk teman atau kerabat di tanah air sudah dibelikan oleh kakak
iparku dan diantar ke hotel tempat Aku bermalam.
Selama lima hari di kota Mekah, ibadah umrah dilakukan
sebanyak tiga kali. Sedangkan kegiatan City tour dilakukan ketika jama’ah akan
melakukan kegiatan umrah, yang nanti sekaligus mengambil miqat. Seperti
mengunjungi museum, Jabal rahma, Gunung Uhud, Gua Hira, Masjid Quba’ dan
tempat-tempat yang bersejarah lainnya. Diharapkan dengan kegiatan city tour ini adalah para jama’ah mampu memperdalam
pemahaman tentang sejarah Islam, dapat
memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW
dan para sahabatnya,
serta bisa melihat langsung
tempat-tempat bersejarah dan penuh makna, serta
memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan memberikan
pengalaman spiritual yang tak terlupakan.
Di hari
yang kelima, tepatnya jum’at pagi. Selesai melaksanakan salat subuh berjama’ah
di masjidil haram dan sarapan pagi di hotel, jama’ah diharapkan berkumpul di
lobi hotel pada jam 9 pagi untuk melakukan umrah wada’ atau umrah yang
terakhir. Dan nanti ketika pelaksanaan salat jum’at, dihimbau jama’ah untuk
salat jum’at di area luar masjidil haram karena paginya sudah melaksanakan
umrah wada’. Dan jama’ah akan melanjutkan rangkaian ibadah di Masjid Nabawi
Madinah.
Pada
pelaksanaan ibadah umrah yang biasanya dibimbing mutawif, kali ini di umrah
wada’, Aku diminta oleh mutawif untuk membimbing para jama’ah. Aku pun tak
kuasa menahan air mata yang terus mengalir ketika membimbing para jama’ah ketika
pelaksanaan thawaf, dan aku manfaatkan momen ini untuk melakukan video call
dengan kedua orang tuaku di Sidoarjo ketika tiba momen berdo’a di depan ka’bah.
Aku berharap, semoga aku bisa kembali ke
tanah suci bersama mereka suatu saat nanti.
Setelah
salat ashar, para jama’ah pun bersiap untuk meninggalkan kota Mekah dan
melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan menaiki bus yang sudah disediakan oleh
pemerintah kerajaan Arab Saudi. Perjalanan akan ditempuh selama 5 jam. Dan
ternyata sopir bis tersebut ternyata orang dari Bima, NTB. Masya’Allah, dunia
seakan-akan sempit, orang Indonesia ada dimana-mana.
Di Madinah nanti, para jama’ah akan fokus pada ibadah
mandiri di masjid Nabawi. Berbeda dengan ketika di Mekah yang membutuhkan
tenaga/fisik yang prima.
Perjalanan
yang jauh membuat para jama’ah memilih untuk beristirahat dalam kendaraan, dan
pada jam 9 malam waktu setempat, tibalah para jama’ah di kota suci tanah
penyimpan jasad baginda Nabi saw, Madinah al Munawwarah. Para jama’ah langsung menuju ke hotel Al
Saha, untuk menaruh koper dan barang bawaan kemudian menikmati makan malam di
restauran hotel. Seperti ketika berada di hotel Al Massa di Mekah, disini pun
chefnya juga dari Indonesia. Walaupun memang tidak sama persis rasanya karena
bumbu yang berbeda, tapi cukup untuk mengobati rindu dengan masakan nusantara.
Selepas
menikmati makan malam, para jama’ah bergegas ke masjid Nabawi untuk
melaksanakan salat maghrib dan Isya’ berjama’ah dengan jamak ta’khir. dan
kembali lagi ke hotel untuk beristirahat. Agar besok bisa salat berjama’ah di
masjid nabawi.
Yang
paling memanjakan para jama’ah ketika di Madinah adalah persis di samping hotel
dan pintu masuk masjid nabawi banyak toko oleh-oleh, seperti Toko Boss Ali
misalnya. Yang mereka menawarkan dagangannya dengan cara yang unik, yaitu
menggunakan bahasa Indonesia. Mereka rela belajar Bahasa Indonesia demi menarik
simpati para pengunjung yang memang kebanyakan dari negara Indonesia. Semua
serba 3 riyal, mungkin mirip di Indonesia sepuluh ribu dapat 3 barang. Saat Aku
melaksanakan Ibadah Umrah tahun 2019 bertepatan dengan tahun politik di
Indonesia, pedagang-pedagang Arab pun juga memanfaatkan momen tersebut untuk
menwarkan dagangannya agar laku keras. Seperti mengatakan “saya murah, mari
beli, Prabowo boleh, Jokowi boleh”. Dan itu sempat viral di media sosial pada
masanya.
Ada momen
unik ketika Aku berada di dalam masjid Nabawi, pernah suatu ketika setelah
melaksanakan salat maghrib berjama’ah dan sambil menunggu salat isya’, Aku
mengisinya dengan membaca al qur’an. Aku mentargetkan bisa khatam selama berada
di dua kota suci. Di tengah asyik sedang membaca al qur’an, Aku didatangi oleh
seorang lelaki paruh baya, berusia sekitar 55 tahun keatas. Dengan menggunakan
bahasa Inggris yang logatnya mirip orang India, ia bilang kepadaku, bahwa
dirinya berasal dari Bangladesh. Ke madinah bersama istri dan sedang kehabisan
bekal, ia bermaksud meminta sedekah kepadaku. Dengan sopan Aku menjawab, “I’am
sorry, I don’t have a Riyal. I have Indonesian money” (Maaf, saya tidak punya
uang riyal, saya hanya punya uang Indonesia). Setelah itu Aku membuka tasku dan
memberi orang tersebut dua lembar uang merah bergambar Soekarno Hatta. Orang
Bangladesh tersebut pun mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi.
Sewaktu
kembali di hotel, Aku pun menceritahkan kisahnya kepada mutawif. Dan beliau
mengatakan bahwasanya itu adalah modus penipuan. Sering sekali orang Bangladesh
mencari mangsa jama’ah umrah terutama dari Indonesia. Mendengar
penjelasan dari Ustadz mutawif tadi, Aku sama sekali tidak menyesal dan
mengeluh. Aku menanamkan prasangka baik pada orang itu, “siapa tahu dia
malaikat yang diutus oleh Allah Swt ?” Dan Aku beranggapan, bahwa aku bisa
sampai di tanah suci dengan tanpa biaya sepeserpun sudah termasuk nikmat yang
luar biasa, ditambah uang saku yang kuterima dari warga dan beberapa takmir
masjid. Apa salahnya jika bisa sedikit memberi kebahagiaan kepada orang lain.
Tanpa
terasa sepuluh hari pun berlalu, dan Aku beserta rombongan harus meninggalkan
tanah suci dan kembali ke tanah air. Sungguh berat memang, tapi mau bagaimana
lagi?. Mereka harus kembali bekerja dan melaksanakan aktifitas rutin kembali.
Dan Aku juga harus kembali mengabdi di masjid untuk mempersiapkan salat lima
waktu. Lantunan do’a-do’a terpanjatkan, semoga ini bukan yang terakhir, semoga
di tahun mendatang bisa kembali lagi ke tanah suci bersama keluarga dan
orang-orang yang kukasihi. Aamin ya Mujibas Sa’iliin.
Tamat..
Oleh : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)
.jpg)