Chanel Youtube


Hadiah Yang Luar Biasa, Berangkat Ke Baitullah (Bagian 3)


 

Hari kedua setelah jama’ah melaksanakan salat subuh berjama’ah di masjidil haram, mereka diharuskan kembali ke hotel pada jam 6 pagi (waktu di Indonesia selisih 4 jam lebih cepat dibandingkan waktu di Arab saudi) untuk sarapan pagi dan dilanjutkan kegiatan City tour ke peternakan unta dan berbelanja. Jama’ah diharapkan membawa serta pakaian ihram, karena setelah City tour nanti akan mengambil miqat dan melakukan ibadah umrah yang kedua. Di sela-sela kegiatan City tour tak lupa Aku menelpon istri dan putri tercinta yang ada tanah air sebagai pengobat rindu. Aku menceritakan keseruan pengalaman pertama yang kualami. Aku berharap ini bukan yang pertama dan terakhir, semoga kedepannya Aku bersama keluarga besar bisa beribadah di tanah suci lagi.

            Selama kegiatan City tour, ada hal-hal unik yang Aku dan para jama’ah temui. Seperti ketika di peternakan unta, ternyata harga susu unta murni 1 botol kecil (sekitar 300-400 ml) harganya 3 riyal (1 riyal setara Rp. 4000), namun susu unta yang dicampur (maaf) air kencing unta, dengan ukuran botol yang sama, harganya malah lebih mahal, sekitar 5 riyal. Para jama’ah pun terheran-heran. Dan hal unik yang kedua, kebanyakan pedagang di Mekah mau menerima mata uang Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah tanpa harus menukarnya dengan mata uang Riyal. Asalkan pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000. Para jama’ah pun memanfaatkan kesempatan ini untuk memborong sebanyak-banyaknya. Tapi bagi Aku, dengan uang saku yang minim, aku hanya membeli oleh-oleh seperlunya untuk keluarga di tanah air. Kesempatan umrah ini juga merupakan momen pertemuanku dengan kakak dari istriku (ipar) yang belum pernah kutemui semenjak menikah. Kabarnya ia menjadi pekerja di Arab semenjak istriku masih kuliah di Malang, berarti sekitar 10 tahun. Jadi keperluan belanja dan oleh-oleh untuk teman atau kerabat di tanah air sudah dibelikan oleh kakak iparku dan diantar ke hotel tempat Aku bermalam.

            Selama lima hari di kota Mekah, ibadah umrah dilakukan sebanyak tiga kali. Sedangkan kegiatan City tour dilakukan ketika jama’ah akan melakukan kegiatan umrah, yang nanti sekaligus mengambil miqat. Seperti mengunjungi museum, Jabal rahma, Gunung Uhud, Gua Hira, Masjid Quba’ dan tempat-tempat yang bersejarah lainnya. Diharapkan dengan kegiatan city tour ini adalah para jama’ah mampu memperdalam pemahaman tentang sejarah Islam, dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, serta bisa melihat langsung tempat-tempat bersejarah dan penuh makna, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan memberikan pengalaman spiritual yang tak terlupakan. 

            Di hari yang kelima, tepatnya jum’at pagi. Selesai melaksanakan salat subuh berjama’ah di masjidil haram dan sarapan pagi di hotel, jama’ah diharapkan berkumpul di lobi hotel pada jam 9 pagi untuk melakukan umrah wada’ atau umrah yang terakhir. Dan nanti ketika pelaksanaan salat jum’at, dihimbau jama’ah untuk salat jum’at di area luar masjidil haram karena paginya sudah melaksanakan umrah wada’. Dan jama’ah akan melanjutkan rangkaian ibadah di Masjid Nabawi Madinah.

            Pada pelaksanaan ibadah umrah yang biasanya dibimbing mutawif, kali ini di umrah wada’, Aku diminta oleh mutawif untuk membimbing para jama’ah. Aku pun tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir ketika membimbing para jama’ah ketika pelaksanaan thawaf, dan aku manfaatkan momen ini untuk melakukan video call dengan kedua orang tuaku di Sidoarjo ketika tiba momen berdo’a di depan ka’bah. Aku  berharap, semoga aku bisa kembali ke tanah suci bersama mereka suatu saat nanti.

            Setelah salat ashar, para jama’ah pun bersiap untuk meninggalkan kota Mekah dan melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan menaiki bus yang sudah disediakan oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi. Perjalanan akan ditempuh selama 5 jam. Dan ternyata sopir bis tersebut ternyata orang dari Bima, NTB. Masya’Allah, dunia seakan-akan sempit, orang Indonesia ada dimana-mana.

Di Madinah nanti, para jama’ah akan fokus pada ibadah mandiri di masjid Nabawi. Berbeda dengan ketika di Mekah yang membutuhkan tenaga/fisik yang prima.

            Perjalanan yang jauh membuat para jama’ah memilih untuk beristirahat dalam kendaraan, dan pada jam 9 malam waktu setempat, tibalah para jama’ah di kota suci tanah penyimpan jasad baginda Nabi saw, Madinah al Munawwarah.  Para jama’ah langsung menuju ke hotel Al Saha, untuk menaruh koper dan barang bawaan kemudian menikmati makan malam di restauran hotel. Seperti ketika berada di hotel Al Massa di Mekah, disini pun chefnya juga dari Indonesia. Walaupun memang tidak sama persis rasanya karena bumbu yang berbeda, tapi cukup untuk mengobati rindu dengan masakan nusantara.

            Selepas menikmati makan malam, para jama’ah bergegas ke masjid Nabawi untuk melaksanakan salat maghrib dan Isya’ berjama’ah dengan jamak ta’khir. dan kembali lagi ke hotel untuk beristirahat. Agar besok bisa salat berjama’ah di masjid nabawi.

            Yang paling memanjakan para jama’ah ketika di Madinah adalah persis di samping hotel dan pintu masuk masjid nabawi banyak toko oleh-oleh, seperti Toko Boss Ali misalnya. Yang mereka menawarkan dagangannya dengan cara yang unik, yaitu menggunakan bahasa Indonesia. Mereka rela belajar Bahasa Indonesia demi menarik simpati para pengunjung yang memang kebanyakan dari negara Indonesia. Semua serba 3 riyal, mungkin mirip di Indonesia sepuluh ribu dapat 3 barang. Saat Aku melaksanakan Ibadah Umrah tahun 2019 bertepatan dengan tahun politik di Indonesia, pedagang-pedagang Arab pun juga memanfaatkan momen tersebut untuk menwarkan dagangannya agar laku keras. Seperti mengatakan “saya murah, mari beli, Prabowo boleh, Jokowi boleh”. Dan itu sempat viral di media sosial pada masanya.

            Ada momen unik ketika Aku berada di dalam masjid Nabawi, pernah suatu ketika setelah melaksanakan salat maghrib berjama’ah dan sambil menunggu salat isya’, Aku mengisinya dengan membaca al qur’an. Aku mentargetkan bisa khatam selama berada di dua kota suci. Di tengah asyik sedang membaca al qur’an, Aku didatangi oleh seorang lelaki paruh baya, berusia sekitar 55 tahun keatas. Dengan menggunakan bahasa Inggris yang logatnya mirip orang India, ia bilang kepadaku, bahwa dirinya berasal dari Bangladesh. Ke madinah bersama istri dan sedang kehabisan bekal, ia bermaksud meminta sedekah kepadaku. Dengan sopan Aku menjawab, “I’am sorry, I don’t have a Riyal. I have Indonesian money” (Maaf, saya tidak punya uang riyal, saya hanya punya uang Indonesia). Setelah itu Aku membuka tasku dan memberi orang tersebut dua lembar uang merah bergambar Soekarno Hatta. Orang Bangladesh tersebut pun mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi.

            Sewaktu kembali di hotel, Aku pun menceritahkan kisahnya kepada mutawif. Dan beliau mengatakan bahwasanya itu adalah modus penipuan. Sering sekali orang Bangladesh mencari mangsa jama’ah umrah terutama dari Indonesia. Mendengar penjelasan dari Ustadz mutawif tadi, Aku sama sekali tidak menyesal dan mengeluh. Aku menanamkan prasangka baik pada orang itu, “siapa tahu dia malaikat yang diutus oleh Allah Swt ?” Dan Aku beranggapan, bahwa aku bisa sampai di tanah suci dengan tanpa biaya sepeserpun sudah termasuk nikmat yang luar biasa, ditambah uang saku yang kuterima dari warga dan beberapa takmir masjid. Apa salahnya jika bisa sedikit memberi kebahagiaan kepada orang lain.

            Tanpa terasa sepuluh hari pun berlalu, dan Aku beserta rombongan harus meninggalkan tanah suci dan kembali ke tanah air. Sungguh berat memang, tapi mau bagaimana lagi?. Mereka harus kembali bekerja dan melaksanakan aktifitas rutin kembali. Dan Aku juga harus kembali mengabdi di masjid untuk mempersiapkan salat lima waktu. Lantunan do’a-do’a terpanjatkan, semoga ini bukan yang terakhir, semoga di tahun mendatang bisa kembali lagi ke tanah suci bersama keluarga dan orang-orang yang kukasihi. Aamin ya Mujibas Sa’iliin.

Tamat..


Oleh : Muttaqin, S.Pd I (GPAI SDN Madyopuro 4)


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url