Iman Di Era Scroll Tanpa Henti: Tantangan Spiritualitas Muslim Zaman Digital
Perkembangan
pesat teknologi digital di era modern telah membawa perubahan signifikan dalam
cara manusia hidup, berkomunikasi, dan memaknai kehidupan. Salah satu perubahan
yang paling mencolok adalah hadirnya media sosial. Jika pada awalnya media
sosial hanya dipandang sebagai tren baru, kini ia telah menjadi bagian integral
dari kehidupan sehari-hari.
Jari
manusia modern hari ini bergerak aktif daripada apa yang ada dalam pikirannya.
Tanpa sadar, scroll menjadi bagian aktivitas yang konsisten kita lakukan
dalam kehidupan sehari-hari: bangun tidur, sebelum tidur, bahkan disela-sela
peribadahan. Mirisnya, di tengah kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan,
banyak manusia merasah gelisah, lelah dan merasakan kekosongan batin.
Inilah
paradoks spiritual di era digital: akses terhadap pengetahuan semakin meluas,
namun kedalaman keyakinan justru semakin surut.
Media
sosial tidak bertujuan untuk menyejukkan jiwa, melainkan untuk merebut
perhatian sebanyak mungkin. Algoritma tidak mempedulikan yang baik atau buruk,
serta tidak mempertimbangkan manfaat atau dampak negatif. Yang menjadi fokus
hanya lamanya durasi interaksi, keterlibatan, dan konektivitas. Realitas saat
ini menunjukkan bahwa masyarakat di Indonesia menghabiskan waktu lebih dari
tujuh jam setiap harinya di depan layar. Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa
terjebak dalam banjir informasi tanpa henti, tanpa waktu untuk merenungkan.
Dalam
situasi ini, fungsi agama juga mengalami perubahan. Ia tidak lagi sekadar
pedoman hidup, tetapi sering kali bertransformasi menjadi konten yang mudah
dicerna. Ayat-ayat Al-Qur’an dipotong untuk memenuhi kebutuhan visual, hadis disederhanakan
demi memperoleh popularitas, dan ceramah diukur berdasarkan jumlah penonton,
bukan dari kedalaman ilmu. Akibatnya, lahir generasi yang merasa cukup beragama
hanya dengan potongan informasi, namun kurang memiliki penghayatan yang
mendalam.
Allah
SWT telah mengingatkan, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu
tidak memiliki pengetahuan tentangnya" (QS. Al-Isra’: 36). Namun, di zaman
digital ini, banyak orang merasa sudah "tahu" hanya dengan menonton
satu video pendek, tanpa verifikasi, tanpa sanad ilmunya, dan tanpa etika dalam
perbedaan pendapat.
Yang
lebih mengkhawatirkan, budaya menggulir layar lambat laun menghancurkan
kekhusyukan. Al-Qur’an dibaca sambil menunggu notifikasi, dzikir dilakukan
dengan pikiran yang terpecah, bahkan shalat sering terganggu oleh imaji layar
yang belum tergarap. Padahal Allah mengingatkan dengan tegas, "Maka apakah
mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci? "
(QS. Muhammad: 24).
Pertanyaan
ini terasa relevan hari ini: apakah hati kita terkunci oleh dosa, atau oleh
distraksi digital?
Sebuah
penelitian menunjukkan bahwa sekitar 83 persen generasi muda Muslim di
Indonesia menunjukkan tingkat keagamaan yang tinggi (Pramitah: 2024). Survei
nasional yang berbeda juga menemukan bahwa 79,3 persen kaum muda sering
mempertimbangkan prinsip-prinsip keagamaan saat mengambil keputusan krusial
dalam hidup mereka (IYC: 2025).
Fenomena
lain yang menarik adalah bagaimana agama bertransformasi menjadi arena
pertikaian yang tidak beretika di dunia maya. Diskusi yang dulunya didekati
dengan pengetahuan dan sopan santun kini seringkali berubah menjadi hinaan dan
saling menjatuhkan. Semua merasa benar karena memiliki platform digital yang
mereka kendalikan. Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan, “Salah satu tanda
baiknya iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya”
(HR. Tirmidzi). Akan tetapi, media sosial justru mendorong kebalikannya:
terlibat dalam setiap isu, berkomentar tentang segala hal, meskipun tidak
memberikan kontribusi pada iman.
Tanpa
kita sadari, iman kita mengalami kebocoran yang halus. Konten yang menunjukkan
gaya hidup menciptakan rasa iri, tontonan yang berlebihan membuat hati menjadi
tumpul, dan perdebatan tanpa kebijaksanaan menumbuhkan kesombongan. Semua ini
tidak terjadi dalam bentuk dosa besar, melainkan dalam kelalaian kecil yang
berulang-ulang. Sementara itu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa baik
buruknya seseorang sangat bergantung pada keadaan hatinya (HR. Bukhari dan
Muslim). Apa yang kita konsumsi melalui mata dan telinga kita hari ini akan
mempengaruhi kualitas hati di masa depan.
Lalu,
bagaimana cara melindungi iman di zaman scrolling tanpa henti?
Pertama,
disiplin dalam penggunaan digital seharusnya dipandang sebagai aspek dari
ibadah. Membatasi waktu di depan layar bukan hanya tentang menjaga kesehatan
mental, tetapi juga tentang melindungi jiwa. Saat beribadah, seperti shalat,
membaca Al-Qur'an, dan berdoa, perlu diperhatikan sebagai waktu suci tanpa
gangguan.
Kedua,
tingkatkan konsumsi "konten tenang". Iman berkembang dalam keheningan
yang tulus. Berzikir tanpa merekam, bersedekah tanpa dipublikasikan, dan berdoa
tanpa dibagikan akan lebih menyehatkan hati. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra'd: 28), bukan melalui
scrolling tiada henti. Ketiga, fokuslah pada pengetahuan, bukan sensasi.
Mengikuti guru yang berintegritas dan berpengetahuan jauh lebih berharga
dibanding mengikuti akun yang viral tetapi dangkal.
Zaman
digital tidak seharusnya membunuh iman. Namun, tanpa kewaspadaan, ia dapat
perlahan mengosongkannya. Sekarang, bukan lagi soal apa yang kita lihat di
layar, tapi siapa yang sedang membentuk hati kita setiap kali kita melakukan
scrolling.
Oleh : Jefry Hadi Susilo Ramadan, M.Pd., Gr (GPAI SDN Polehan 2)
.jpg)