Chanel Youtube


Iman Di Era Scroll Tanpa Henti: Tantangan Spiritualitas Muslim Zaman Digital

 



Perkembangan pesat teknologi digital di era modern telah membawa perubahan signifikan dalam cara manusia hidup, berkomunikasi, dan memaknai kehidupan. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah hadirnya media sosial. Jika pada awalnya media sosial hanya dipandang sebagai tren baru, kini ia telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

Jari manusia modern hari ini bergerak aktif daripada apa yang ada dalam pikirannya. Tanpa sadar, scroll menjadi bagian aktivitas yang konsisten kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari: bangun tidur, sebelum tidur, bahkan disela-sela peribadahan. Mirisnya, di tengah kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan, banyak manusia merasah gelisah, lelah dan merasakan kekosongan batin.

Inilah paradoks spiritual di era digital: akses terhadap pengetahuan semakin meluas, namun kedalaman keyakinan justru semakin surut.

Media sosial tidak bertujuan untuk menyejukkan jiwa, melainkan untuk merebut perhatian sebanyak mungkin. Algoritma tidak mempedulikan yang baik atau buruk, serta tidak mempertimbangkan manfaat atau dampak negatif. Yang menjadi fokus hanya lamanya durasi interaksi, keterlibatan, dan konektivitas. Realitas saat ini menunjukkan bahwa masyarakat di Indonesia menghabiskan waktu lebih dari tujuh jam setiap harinya di depan layar. Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa terjebak dalam banjir informasi tanpa henti, tanpa waktu untuk merenungkan.

Dalam situasi ini, fungsi agama juga mengalami perubahan. Ia tidak lagi sekadar pedoman hidup, tetapi sering kali bertransformasi menjadi konten yang mudah dicerna. Ayat-ayat Al-Qur’an dipotong untuk memenuhi kebutuhan visual, hadis disederhanakan demi memperoleh popularitas, dan ceramah diukur berdasarkan jumlah penonton, bukan dari kedalaman ilmu. Akibatnya, lahir generasi yang merasa cukup beragama hanya dengan potongan informasi, namun kurang memiliki penghayatan yang mendalam.

Allah SWT telah mengingatkan, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya" (QS. Al-Isra’: 36). Namun, di zaman digital ini, banyak orang merasa sudah "tahu" hanya dengan menonton satu video pendek, tanpa verifikasi, tanpa sanad ilmunya, dan tanpa etika dalam perbedaan pendapat.

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya menggulir layar lambat laun menghancurkan kekhusyukan. Al-Qur’an dibaca sambil menunggu notifikasi, dzikir dilakukan dengan pikiran yang terpecah, bahkan shalat sering terganggu oleh imaji layar yang belum tergarap. Padahal Allah mengingatkan dengan tegas, "Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci? " (QS. Muhammad: 24).

Pertanyaan ini terasa relevan hari ini: apakah hati kita terkunci oleh dosa, atau oleh distraksi digital?

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 83 persen generasi muda Muslim di Indonesia menunjukkan tingkat keagamaan yang tinggi (Pramitah: 2024). Survei nasional yang berbeda juga menemukan bahwa 79,3 persen kaum muda sering mempertimbangkan prinsip-prinsip keagamaan saat mengambil keputusan krusial dalam hidup mereka (IYC: 2025).

Fenomena lain yang menarik adalah bagaimana agama bertransformasi menjadi arena pertikaian yang tidak beretika di dunia maya. Diskusi yang dulunya didekati dengan pengetahuan dan sopan santun kini seringkali berubah menjadi hinaan dan saling menjatuhkan. Semua merasa benar karena memiliki platform digital yang mereka kendalikan. Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan, “Salah satu tanda baiknya iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya” (HR. Tirmidzi). Akan tetapi, media sosial justru mendorong kebalikannya: terlibat dalam setiap isu, berkomentar tentang segala hal, meskipun tidak memberikan kontribusi pada iman.

Tanpa kita sadari, iman kita mengalami kebocoran yang halus. Konten yang menunjukkan gaya hidup menciptakan rasa iri, tontonan yang berlebihan membuat hati menjadi tumpul, dan perdebatan tanpa kebijaksanaan menumbuhkan kesombongan. Semua ini tidak terjadi dalam bentuk dosa besar, melainkan dalam kelalaian kecil yang berulang-ulang. Sementara itu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa baik buruknya seseorang sangat bergantung pada keadaan hatinya (HR. Bukhari dan Muslim). Apa yang kita konsumsi melalui mata dan telinga kita hari ini akan mempengaruhi kualitas hati di masa depan.

Lalu, bagaimana cara melindungi iman di zaman scrolling tanpa henti?

Pertama, disiplin dalam penggunaan digital seharusnya dipandang sebagai aspek dari ibadah. Membatasi waktu di depan layar bukan hanya tentang menjaga kesehatan mental, tetapi juga tentang melindungi jiwa. Saat beribadah, seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa, perlu diperhatikan sebagai waktu suci tanpa gangguan.

Kedua, tingkatkan konsumsi "konten tenang". Iman berkembang dalam keheningan yang tulus. Berzikir tanpa merekam, bersedekah tanpa dipublikasikan, dan berdoa tanpa dibagikan akan lebih menyehatkan hati. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra'd: 28), bukan melalui scrolling tiada henti. Ketiga, fokuslah pada pengetahuan, bukan sensasi. Mengikuti guru yang berintegritas dan berpengetahuan jauh lebih berharga dibanding mengikuti akun yang viral tetapi dangkal.

Zaman digital tidak seharusnya membunuh iman. Namun, tanpa kewaspadaan, ia dapat perlahan mengosongkannya. Sekarang, bukan lagi soal apa yang kita lihat di layar, tapi siapa yang sedang membentuk hati kita setiap kali kita melakukan scrolling.


Oleh : Jefry Hadi Susilo Ramadan, M.Pd., Gr (GPAI SDN Polehan 2)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url