Chanel Youtube


Puasa Ramadan: Olah Pikir, Olah Rasa, Olah Hati, dan Olah Raga

 


Ramadan ‘tlah tiba, Ramadan’ tlah tiba, hatiku gembira. Bulan Ramadan telah tiba, semua kaum muslimin menyambutnya dengan penuh gembira dan suka cita. Riuhnya penyambutan bak kedatangan tamu istimewa. Muslimin muslimat telah bersiap dengan  suguh, gupuh lungguh nya. Satu pekan sebelum Ramadan datang banyak dari kalangan muslimin yang mulai nyekar menziarahi makam-makam leluhur untuk berdoa, melaksanakan ajaran nabi dan melestarikan tradisi. Pasar-pasar mulai ramai dengan aktivitas ibu-ibu yang berbelanja untuk mempersipkan segala kebutuhan di bulan suci. Bapak-bapak rama-ramai ke masjid dan mushalla membersihkan tempat ibadah yang akan dipakai secara gotong royong atau kerja bakti.

Sejak hari pertama puasa, jalan-jalan mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan meskipun hanya sekedar untuk “ngabuburit”. Gelaran pasar-pasar ta’jil mulai ramai mewarnai sudut-sudut kampung bahkan tepi-tepi jalan. Pada malam hari, semua masjid dan mushalla ramai didatangi kaum muslimin yang berharap Rahmat dan Ampunan-Nya. Belum selesai sampai di situ alunan musik patrol untuk membangunkan sahur sejak pukul 02.00 dinihari ikut menyemarakkan suasana. Hal ini menunjukkan bulan Ramadan benar-benar bulan istimewa selain karena bulan Allah menurunkan Al Qura’an juga karena ada ibadah yang diwajibkan yaitu berpuasa sebagai ibadah intinya. Tujuan puasa adalah untuk meraih predikat orang yang bertaaqwa, tetapi siapapun mengakui bahwa hikmah puasa merupakan sarana untuk mengolah pikir, rasa, hati dan raga.

 

Puasa Ramadan Sarana Olah Pikir, Olah Rasa, Olah Hati dan Olah Raga

Meskipun merasa lapar dan haus, berpuasa justru memberi ragam manfaat  bagi siapapun yang melakukannya. Manfaat yang dirasakan tidak hanya secara fisik tetapi juga, psikis dan kognitifnya. Tidak bisa dipungkiri, secara ilmiah telah dibuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan kecerdasan pikiran seseorang. Sebuah penelitian yang dilakukan di  Americans College of Cardiology di New Orleans membuktikan bahwa puasa dapat memperbaiki sel otak, meningkatkan fungsi kognitif, lebih tahan terhadap stress, mengurangi kerusakan otak, mencegah penyakit otak degenerative dan lain sebagainya. Dengan berpuasa, protein yang  bermanfaat untuk membantu peremajaan dan regenerasi sel induk otak lebih meningkat. Protein tersebut dapat meningkatkan fungsi memori dan motorik seseorang. Dengan terjadinya peremajaan dan regenerasi sel-sel otak ketika berpuasa, maka kemampuan otak dalam berpikir, bernalar, dan berkreasi dapat meningkat pula. Puasa diketahui memiliki kaitan erat dengan memperlambat terjadinya gangguan pada otak dan sistem saraf. Dengan begitu, puasa bisa membuat seseorang lebih fokus untuk belajar, bekerja dan melakukan berbagai hal.

Rasa lapar yang dirasakan sepanjang hari mulai terbit fajar sampai matahari terbenam merupakan ciri orang yang berpuasa. Rasa itu pula pasti yang dirasakan oleh saudara, tetangga atau siapapun yang kurang beruntung karena sering tidak makan. Dengan ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain, seseorang yang berpuasa akan dapat meningkatkan rasa empati dan sikap peduli terhadap sesama. Puasa Ramadan mendorong kita untuk lebih banyak berbagi dan membantu sesama. Memberikan sedekah dengan memberikan sebagian harta dan makanan berbuka kepada mereka yang membutuhkan sebagai ibadah yang sangat dianjurkan. Kepedulian sosial juga tercermin dalam kebersamaan yang terjalin selama bulan Ramadan. Banyak keluarga yang berkumpul hanya untuk sekedar bisa berbuka puasa bersama. Puasa juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki, tidak menyia-nyiakan makanan dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsinya.

Berpuasa tidak sekedar menghindari makan dan minum, karena puasa yang demikian hanya akan mendapatkan lapar dan haus saja. Puasa seyogyanya harus dapat menghindarkan kita dari segala sifat dan perbuatan dosa. Puasa harus dijadikan sebagai jalan dan media pendidikan akhlak yang baik untuk menghindari akhlak yang buruk. Semua keburukan seperti bohong, ghibah, janji palsu, buka aib, adu domba, fitnah, dan nafsu syahwat hanya akan menyebabkan puasa menjadi sia-sia.  Dengan puasa kita bisa berlatih mengendalikan diri dan mengontrol emosi. Puasa menjadikan seseorang  lebih jujur, amanah, sabar,  sopan, disiplin dan hidup teratur.

Seorang muslim yang kuat lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan muslim yang lemah. Agar menjadi muslim yang kuat maka raganya harus sehat. Puasa merupakan satu cara agar seseorang memiliki raga yang sehat. Banyak orang mengira bahwa puasa membuat tubuh lemas sehingga tubuh bisa mudah sakit. Padahal sejatinya tidak demikian. Menahan haus dan lapar lebih dari 10 jam terbukti mampu memperbaiki sistem kekebalan tubuh, meregenerasi bahkan meningkatkan fungsi sel imun dalam melawan infeksi. Dengan berpuasa kadar kolesterol jahat di dalam tubuh akan berkurang sehingga tekanan darah tetap stabil. Dengan terkontrolnya kadar kolesterol dan tekanan darah, jantung pun akan lebih sehat.  Puasa juga bermanfaat untuk mendetoksifikasi tubuh dari racun karena organ pencernaan diistirahatkan cukup lama.

Puasa akan benar-benar menjadi sarana olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga manakala dilakukan sesuai dengan tuntunan syar’i.  Rukun dan sunnah puasa yang telah digariskan  dipenuhi. Makanan yang dihidangkan saat sahur dan berbuka adalah makanan yang sehat dan bergizi. Semua sifat dan perbuatan buruk dihindari. Pengendalian diri dan kontrol emosi mutlak harus dimiliki. Sepanjang siang dan malam perbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada ilahi. Semoga puasa kali ini lebih berkualitas dibandingkan dengan puasa pada tahun-tahun yang sudah kita lalui.

 

 

Oleh: Siti Aisyah, S.Ag

 GPAI SD Islam Sabilillah Malang


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url