Puasa Ramadan: Olah Pikir, Olah Rasa, Olah Hati, dan Olah Raga
Ramadan ‘tlah tiba, Ramadan’ tlah tiba, hatiku
gembira. Bulan Ramadan telah tiba, semua kaum muslimin menyambutnya dengan penuh
gembira dan suka cita. Riuhnya penyambutan bak kedatangan tamu istimewa.
Muslimin muslimat telah bersiap dengan suguh,
gupuh lungguh nya. Satu pekan sebelum Ramadan datang banyak dari kalangan
muslimin yang mulai nyekar menziarahi makam-makam leluhur untuk berdoa,
melaksanakan ajaran nabi dan melestarikan tradisi. Pasar-pasar mulai ramai
dengan aktivitas ibu-ibu yang berbelanja untuk mempersipkan segala kebutuhan di
bulan suci. Bapak-bapak rama-ramai ke masjid dan mushalla membersihkan tempat
ibadah yang akan dipakai secara gotong royong atau kerja bakti.
Sejak hari pertama puasa, jalan-jalan mulai ramai
dengan lalu lalang kendaraan meskipun hanya sekedar untuk “ngabuburit”. Gelaran
pasar-pasar ta’jil mulai ramai mewarnai sudut-sudut kampung bahkan tepi-tepi
jalan. Pada malam hari, semua masjid dan mushalla ramai didatangi kaum muslimin
yang berharap Rahmat dan Ampunan-Nya. Belum selesai sampai di situ alunan musik
patrol untuk membangunkan sahur sejak pukul 02.00 dinihari ikut menyemarakkan
suasana. Hal ini menunjukkan bulan Ramadan benar-benar bulan istimewa selain
karena bulan Allah menurunkan Al Qura’an juga karena ada ibadah yang diwajibkan
yaitu berpuasa sebagai ibadah intinya. Tujuan puasa adalah untuk meraih
predikat orang yang bertaaqwa, tetapi siapapun mengakui bahwa hikmah puasa merupakan
sarana untuk mengolah pikir, rasa, hati dan raga.
Puasa Ramadan Sarana Olah Pikir, Olah Rasa, Olah Hati dan Olah Raga
Meskipun merasa lapar dan haus, berpuasa justru
memberi ragam manfaat bagi siapapun yang
melakukannya. Manfaat yang dirasakan tidak hanya secara fisik tetapi juga,
psikis dan kognitifnya. Tidak bisa dipungkiri, secara ilmiah telah dibuktikan
bahwa puasa dapat meningkatkan kecerdasan pikiran seseorang. Sebuah penelitian
yang dilakukan di Americans College of
Cardiology di New Orleans membuktikan bahwa puasa dapat memperbaiki sel otak, meningkatkan
fungsi kognitif, lebih tahan terhadap stress, mengurangi kerusakan otak, mencegah
penyakit otak degenerative dan lain sebagainya. Dengan berpuasa, protein yang bermanfaat untuk membantu peremajaan dan
regenerasi sel induk otak lebih meningkat. Protein tersebut dapat meningkatkan
fungsi memori dan motorik seseorang. Dengan terjadinya peremajaan dan
regenerasi sel-sel otak ketika berpuasa, maka kemampuan otak dalam berpikir,
bernalar, dan berkreasi dapat meningkat pula. Puasa diketahui memiliki kaitan
erat dengan memperlambat terjadinya gangguan pada otak dan sistem saraf. Dengan
begitu, puasa bisa membuat seseorang lebih fokus untuk belajar, bekerja dan
melakukan berbagai hal.
Rasa lapar yang dirasakan sepanjang hari mulai
terbit fajar sampai matahari terbenam merupakan ciri orang yang berpuasa. Rasa
itu pula pasti yang dirasakan oleh saudara, tetangga atau siapapun yang kurang
beruntung karena sering tidak makan. Dengan ikut merasakan apa yang dirasakan
orang lain, seseorang yang berpuasa akan dapat meningkatkan rasa empati dan
sikap peduli terhadap sesama. Puasa Ramadan mendorong kita untuk lebih banyak
berbagi dan membantu sesama. Memberikan sedekah dengan memberikan sebagian
harta dan makanan berbuka kepada mereka yang membutuhkan sebagai ibadah yang
sangat dianjurkan. Kepedulian sosial juga tercermin dalam kebersamaan yang
terjalin selama bulan Ramadan. Banyak keluarga yang berkumpul hanya untuk
sekedar bisa berbuka puasa bersama. Puasa juga mengajarkan kita untuk lebih
menghargai apa yang kita miliki, tidak menyia-nyiakan makanan dan tidak
berlebihan dalam mengkonsumsinya.
Berpuasa
tidak sekedar menghindari makan dan minum, karena puasa yang
demikian hanya akan mendapatkan lapar dan haus saja. Puasa seyogyanya harus
dapat menghindarkan kita dari segala sifat dan perbuatan dosa. Puasa harus
dijadikan sebagai jalan dan media pendidikan akhlak yang baik untuk menghindari
akhlak yang buruk. Semua keburukan seperti bohong, ghibah, janji palsu,
buka aib, adu domba, fitnah, dan nafsu syahwat hanya akan menyebabkan puasa
menjadi sia-sia. Dengan puasa kita bisa berlatih
mengendalikan diri dan mengontrol emosi. Puasa menjadikan seseorang lebih jujur, amanah, sabar, sopan, disiplin dan hidup teratur.
Seorang muslim yang kuat lebih dicintai oleh Allah
dibandingkan dengan muslim yang lemah. Agar menjadi muslim yang kuat maka
raganya harus sehat. Puasa merupakan satu cara agar seseorang memiliki raga
yang sehat. Banyak orang mengira bahwa puasa membuat tubuh lemas sehingga tubuh
bisa mudah sakit. Padahal sejatinya tidak demikian. Menahan haus dan lapar
lebih dari 10 jam terbukti mampu memperbaiki sistem kekebalan tubuh,
meregenerasi bahkan meningkatkan fungsi sel imun dalam melawan infeksi. Dengan
berpuasa kadar kolesterol jahat di dalam tubuh akan berkurang sehingga tekanan
darah tetap stabil. Dengan terkontrolnya kadar kolesterol dan tekanan darah,
jantung pun akan lebih sehat. Puasa juga
bermanfaat untuk mendetoksifikasi tubuh dari racun karena organ pencernaan
diistirahatkan cukup lama.
Puasa akan benar-benar menjadi sarana olah pikir,
olah rasa, olah hati, dan olah raga manakala dilakukan sesuai dengan tuntunan syar’i. Rukun dan sunnah puasa yang telah
digariskan dipenuhi. Makanan yang
dihidangkan saat sahur dan berbuka adalah makanan yang sehat dan bergizi. Semua
sifat dan perbuatan buruk dihindari. Pengendalian diri dan kontrol emosi mutlak
harus dimiliki. Sepanjang siang dan malam perbanyak ibadah untuk mendekatkan
diri kepada ilahi. Semoga puasa kali ini lebih berkualitas dibandingkan dengan
puasa pada tahun-tahun yang sudah kita lalui.
Oleh: Siti Aisyah, S.Ag
GPAI SD Islam Sabilillah Malang
.jpg)