Chanel Youtube


MENGHIDUPKAN PEMBELAJARAN PAI MELALUI IFP DAN GROWTH MINDSET


Pendahuluan 

Ketika Pembelajaran Tidak Cukup Hanya Didengar “Pak, saya sebenarnya ingin bisa, tetapi saya memang tidak pintar menghafal.”

Kalimat sederhana seperti itu mungkin pernah terdengar di ruang kelas. Di balik kalimat tersebut terdapat persoalan pendidikan yang lebih besar: sebagian peserta didik mulai memberi label terhadap dirinya sendiri. Ada yang merasa dirinya tidak pintar membaca Al-Qur’an, tidak mampu menghafal surah, tidak percaya diri berbicara di depan kelas, atau merasa selalu tertinggal dibandingkan teman-temannya.

Padahal, seorang anak bukanlah produk yang sudah selesai. Ia adalah manusia yang sedang bertumbuh.

Di sinilah konsep growth mindset menjadi penting dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, belajar dari kesalahan, dan ketekunan. Sebaliknya, fixed mindset cenderung membuat anak berpikir bahwa kemampuan adalah sesuatu yang tetap: “Saya memang tidak bisa.”

Dalam konteks pendidikan Islam, semangat bertumbuh sesungguhnya bukan gagasan yang asing. Al-Qur'an telah mengajarkan pentingnya usaha dan proses. Allah Swt. berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut memberikan pesan yang sangat kuat bahwa manusia tidak cukup hanya memiliki keinginan. Ada sai, yaitu usaha dan ikhtiar yang harus dilakukan. Bahkan ayat berikutnya menegaskan bahwa usaha manusia akan diperlihatkan dan mendapatkan balasan.

Maka, ketika guru mengatakan kepada peserta didik, “Kamu belum bisa, tetapi kamu bisa belajar sampai bisa,” sesungguhnya guru sedang menanamkan sebuah nilai yang sejalan dengan semangat ikhtiar dalam Islam.

IFP: Ketika Teknologi Masuk ke Ruang Kelas

Perkembangan teknologi menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan adalah Interactive Flat Panel (IFP).

IFP bukan sekadar layar besar pengganti papan tulis. Jika digunakan secara kreatif, IFP dapat menjadi ruang interaksi: tempat peserta didik mengamati gambar, menyimak video, membaca ayat Al-Qur'an, mengerjakan kuis interaktif, berdiskusi, mempresentasikan hasil kerja, hingga melakukan refleksi pembelajaran.

Namun, teknologi tidak boleh menjadi pusat pembelajaran.

Guru tetap menjadi pengarah, peserta didik tetap menjadi pelaku, dan nilai-nilai Islam tetap menjadi ruhnya.

Inilah yang menurut saya menjadi titik penting.

Jangan sampai pembelajaran PAI berubah menjadi sekadar “wah, layarnya besar dan videonya bagus”. Teknologi harus membawa peserta didik menuju pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Dalam pembelajaran PAI kelas V, misalnya, guru dapat menampilkan sebuah video pendek melalui IFP tentang perilaku terpuji seorang anak. Setelah video selesai, guru tidak berhenti pada pertanyaan:

“Anak-anak, apa isi video tadi?”

Pertanyaannya dapat dikembangkan menjadi:

“Menurut kalian, mengapa tokoh tersebut tetap berusaha meskipun gagal?”

“Jika kalian mengalami kegagalan yang sama, apa yang akan kalian lakukan?”

“Nilai Islam apa yang dapat kita ambil?”

Dari sini, IFP bukan lagi sekadar media presentasi. IFP berubah menjadi jembatan menuju berpikir, berdialog, berefleksi, dan berbuat.

Menggabungkan IFP dengan Growth Mindset

Penggunaan IFP akan semakin bermakna apabila dipadukan dengan growth mindset.

Saya membayangkan sebuah pembelajaran PAI yang dimulai dengan kalimat sederhana:

“Hari ini kita tidak berlomba menjadi siapa yang paling pintar. Kita belajar menjadi siapa yang mau terus berkembang.”

Guru kemudian menampilkan sebuah tantangan melalui IFP.

Misalnya, peserta didik diminta membaca potongan ayat atau menjawab pertanyaan tentang materi PAI. Ketika ada siswa yang belum berhasil, guru tidak mengatakan:

“Jawabanmu salah.”

Tetapi:

“Jawabanmu belum tepat. Mari kita cari tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.”

Perubahan bahasa sederhana tersebut dapat mengubah suasana psikologis kelas.

Kesalahan tidak lagi dianggap sebagai kegagalan akhir, tetapi sebagai informasi untuk memperbaiki diri.

Inilah inti growth mindset.

Dalam pembelajaran seperti ini, siswa yang awalnya berkata, “Saya tidak bisa,” diarahkan menjadi:

“Saya belum bisa.”

Perbedaan satu kata—belum—memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Tidak bisa” menutup pintu.

“Belum bisa” membuka kemungkinan.

Dalil Naqli: Islam Mengajarkan Proses Bertumbuh

Semangat bertumbuh dalam pembelajaran juga memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur'an.

Allah Swt. berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ


“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat tersebut menunjukkan kemuliaan iman dan ilmu. Namun, ilmu tidak hadir begitu saja. Ada proses belajar, bertanya, membaca, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mengulang.

Dengan demikian, pembelajaran PAI seharusnya tidak hanya menghasilkan peserta didik yang tahu, tetapi juga peserta didik yang mau terus belajar.

Seorang anak yang belum lancar membaca Al-Qur'an bukan berarti tidak memiliki masa depan sebagai pembaca Al-Qur'an yang baik.

Anak yang hari ini belum berani tampil bukan berarti selamanya menjadi anak yang tidak percaya diri.

Anak yang memperoleh nilai rendah bukan berarti dirinya bodoh.

Nilai adalah informasi tentang proses belajar, bukan label tentang harga diri seorang anak.

Dalil Aqli: Mengapa Growth Mindset Penting?

Secara logis, kemampuan manusia memang dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman.

Seorang anak yang pertama kali belajar membaca Al-Qur'an mungkin masih terbata-bata. Setelah berlatih setiap hari, ia menjadi lebih lancar.

Anak yang awalnya tidak mampu berbicara di depan kelas, jika diberi kesempatan presentasi berkali-kali, secara perlahan akan menjadi lebih percaya diri.

Begitu pula dengan hafalan. Anak yang merasa sulit menghafal dapat menemukan strategi yang lebih sesuai: mengulang ayat sedikit demi sedikit, mendengarkan murattal, memahami makna, membuat jadwal latihan, atau belajar bersama teman.

Artinya, kemampuan bukan hanya persoalan bakat, tetapi juga persoalan proses.

Di sinilah guru PAI memiliki peran penting.

Guru bukan hanya pengajar materi keislaman, tetapi juga arsitek lingkungan belajar yang membantu peserta didik percaya bahwa dirinya mampu berkembang.


IFP, PAI, dan Kelas yang Tidak Takut Salah

Bayangkan sebuah kelas PAI yang menggunakan IFP.

Di depan kelas terdapat layar besar. Guru menampilkan sebuah permasalahan.

“Jika kamu melihat temanmu kesulitan memahami pelajaran, apa yang akan kamu lakukan?”

Siswa berdiskusi.

Kelompok pertama memberikan jawaban.

Kelompok kedua menanggapi.

Kelompok ketiga memberikan contoh lain.

Guru menuliskan kata-kata kunci di IFP:

Peduli – Berusaha – Membantu – Tidak Mudah Menyerah – Bersyukur.

Kemudian guru memberikan tantangan:

“Sekarang, buat satu aksi nyata yang dapat kalian lakukan di sekolah berdasarkan nilai tersebut.”

Siswa mulai berpikir.

Ada yang ingin membantu teman belajar.

Ada yang ingin mengajari teman membaca Al-Qur'an.

Ada yang ingin membantu teman yang kesulitan mengerjakan tugas.

Di titik ini, pembelajaran PAI telah bergerak dari knowledge menuju attitude dan action.

Dari sekadar mengetahui kebaikan menjadi melakukan kebaikan.

Dari layar menjadi laku.


Guru PAI sebagai Teladan Growth Mindset

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Growth mindset tidak akan tumbuh kuat jika hanya menjadi slogan di layar IFP.

Guru harus menjadi contoh.

Ketika pembelajaran yang dirancang guru ternyata kurang berhasil, guru pun dapat mengatakan:

“Hari ini strategi kita belum berhasil. Besok kita coba cara yang berbeda.”

Kalimat tersebut mengajarkan kepada siswa bahwa guru pun manusia pembelajar.

Guru tidak harus selalu sempurna.

Guru harus mau bertumbuh.

Bukankah Rasulullah saw. juga mengajarkan pentingnya sikap optimis dan berusaha?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw. bersabda:

احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ

Maknanya secara ringkas: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.”

Pesan tersebut sangat relevan dengan semangat growth mindset: berusaha, meminta pertolongan Allah, dan tidak mudah menyerah.

Tetapi ada satu perbedaan penting.

Dalam perspektif Islam, growth mindset tidak boleh berhenti pada keyakinan bahwa manusia dapat berkembang hanya karena kekuatan dirinya sendiri.

Ada ikhtiar, tetapi juga ada tawakal.

Ada usaha, tetapi juga ada doa.

Ada strategi, tetapi tetap ada kesadaran bahwa hasil akhir berada dalam kehendak Allah Swt.

Dari “Saya Tidak Bisa” Menjadi “Saya Akan Berusaha”

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang membuat anak mendapatkan nilai tinggi.

Pendidikan adalah tentang membentuk manusia yang memiliki ilmu, iman, akhlak, daya juang, dan kepedulian.

IFP dapat membantu membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif.

Growth mindset dapat membantu peserta didik memandang tantangan sebagai kesempatan bertumbuh.

PAI memberikan arah agar pertumbuhan tersebut tidak kehilangan nilai.

Ketiganya dapat dipertemukan dalam satu visi:

Teknologi sebagai alat, guru sebagai pembimbing, peserta didik sebagai pembelajar, dan Islam sebagai nilai yang menuntun.

Mungkin suatu hari seorang siswa akan lupa dengan slide yang pernah ditampilkan di IFP.

Mungkin ia lupa video yang pernah ditonton.

Mungkin ia lupa soal kuis yang pernah dikerjakan.

Tetapi jika pembelajaran itu berhasil menanamkan satu keyakinan dalam dirinya—

“Aku boleh gagal, tetapi aku tidak boleh berhenti berusaha.”

—maka sesungguhnya pembelajaran PAI telah meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam.

Sebab pendidikan yang hebat bukan hanya membuat anak pandai menjawab soal, tetapi membuat anak berani menghadapi persoalan kehidupan.

Dan pendidikan Islam yang bermakna bukan hanya mengajarkan anak untuk mengetahui kebaikan, tetapi mengajarkan mereka untuk mencintai, memperjuangkan, dan mengamalkan kebaikan.

Sebagaimana pesan QS. An-Najm ayat 39: manusia memperoleh apa yang telah diusahakannya.

Maka, mari kita ubah kalimat:

“Saya tidak bisa.”

menjadi:

“Saya belum bisa.”

Kemudian lanjutkan dengan:

“Saya akan belajar, saya akan berusaha, saya akan berdoa, dan insyaallah saya akan berkembang.”

Karena di dalam kelas PAI, setiap anak bukan sekadar sedang belajar agama. Mereka sedang belajar menjadi manusia yang tidak mudah menyerah.


Penutup

Teknologi boleh semakin canggih. Layar boleh semakin besar. Aplikasi pembelajaran boleh semakin beragam.

Namun, pendidikan akan tetap membutuhkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teknologi:

Sentuhan guru, keteladanan, doa, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh.

IFP hanyalah media.

Growth mindset hanyalah pendekatan.            

Tetapi ketika keduanya dipandu oleh nilai-nilai Islam, pembelajaran dapat menjadi ruang untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, adaptif, percaya diri, pantang menyerah, dan senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah Swt.

Sebab tugas guru bukan hanya menyalakan layar di depan kelas, tetapi juga menyalakan cahaya di dalam diri peserta didik.




Penulis: Rudi Yuliarso, S.Pd., Gr. (Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SDN Merjosari 3 Malang)
Previous Post
2 Comments
  • Zainul Qudsi, M.Pd I
    Zainul Qudsi, M.Pd I 15 September 2026 pukul 01.41

    Mantap

  • Miftachul Islam
    Miftachul Islam 15 September 2026 pukul 01.44

    Sangat menginspirasi

Add Comment
comment url