Muktamar NU ke-35 Menjadi Inspirasi Guru PAI Kota Malang dalam Memperkuat Pendidikan Islam Moderat
MALANG – Momentum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi perhatian besar bagi umat Islam Indonesia. Forum tertinggi organisasi NU ini tidak hanya menentukan arah kepemimpinan PBNU masa khidmah 2026–2031, tetapi juga menjadi ruang penting dalam merumuskan langkah strategis menghadapi tantangan umat, pendidikan, dan kehidupan kebangsaan. Bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) Kota Malang, semangat yang lahir dari Muktamar NU menjadi inspirasi dalam memperkuat peran pendidik sebagai pembentuk karakter generasi bangsa.
Muktamar ke-35 NU menghasilkan keputusan penting terkait mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Keputusan tersebut ditetapkan dalam Sidang Pleno III Muktamar setelah dilakukan pemungutan suara dengan hasil 401 suara mendukung sistem AHWA, 150 suara memilih sistem one man one vote, dan 1 suara tidak sah. Melalui mekanisme ini, NU menegaskan pentingnya prinsip musyawarah, pertimbangan keilmuan, serta penghormatan terhadap ulama dalam menentukan kepemimpinan organisasi.
Bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di Kota Malang, nilai-nilai yang tercermin dalam Muktamar NU memiliki hubungan erat dengan tugas pendidikan di sekolah. GPAI tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga memiliki amanah membangun akhlak, karakter, toleransi, dan kecintaan peserta didik terhadap bangsa. Nilai Islam yang moderat, santun, dan menghargai keberagaman menjadi fondasi penting dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks.
Ketua dan pengurus KKG PAI Kota Malang dapat mengambil banyak pelajaran dari dinamika Muktamar NU ke-35, terutama tentang pentingnya kolaborasi, musyawarah, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Guru bukan hanya sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial melalui pendidikan. Semangat khidmah yang menjadi ruh perjuangan NU sejalan dengan pengabdian guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membimbing generasi muda menuju pribadi yang beriman serta berakhlakul karimah.
Rangkaian Muktamar NU ke-35 juga menunjukkan bahwa organisasi besar seperti NU terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan pesantren. Sembilan ulama terpilih sebagai anggota AHWA yang selanjutnya menjalankan proses musyawarah dalam menentukan kepemimpinan NU periode mendatang. Hal ini menjadi teladan bagi dunia pendidikan bahwa keputusan terbaik lahir melalui kebijaksanaan, dialog, dan penghormatan terhadap berbagai pandangan.
Melalui momentum Muktamar NU ke-35, Guru Pendidikan Agama Islam Kota Malang diharapkan semakin memperkuat komitmen dalam menghadirkan pembelajaran agama yang berkualitas, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. KKG PAI Kota Malang sebagai wadah profesional guru memiliki peran strategis dalam mengembangkan kompetensi pendidik, memperkuat literasi Al-Qur’an, meningkatkan inovasi pembelajaran, serta menanamkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di lingkungan sekolah.
Muktamar NU bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga menjadi refleksi bersama bagi para pendidik bahwa membangun umat harus dimulai dari pendidikan yang kuat. Berawal dari ruang kelas di Kota Malang, para Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) terus melanjutkan perjuangan mencetak generasi yang berilmu, berkarakter, cinta agama, dan cinta tanah air.
Penulis: Ihsan Fanani, S.Pd.I.,M.Pd (Sekretaris 1 KKG PAI Kota Malang, GPAI SDN Arjowinangun 2)

Mantap....
Sangat menginspirasi sekali..
Semoga amanah
MasyaAllaaah.. selalu menjadikan pelajaran dan mancari ibrah dari tiap momen besar untuk keberhasilan pendidikan adalah salah satu ciri dari guru PAI yang cendikiawan untuk generasi penerus bangsa... Mugi sll manfaat aamiin...🤲🏼