Kala Kemarau & Karhutla Menerpa, Refleksi Hari Santri Ajak Umat Kembali pada Bumi
![]() |
| Sumber Gambar dari chatgpt |
Peringatan Hari Santri Nasional setiap bulan Oktober selalu menjadi
momentum historis untuk mengenang kembali peran besar kaum santri dan ulama
dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun,
perayaan Hari Santri tidak boleh berhenti hanya pada romantisme masa lalu. Di
tengah dinamika zaman modern saat ini, santri dan umat Islam dihadapkan pada
ujian zaman yang jauh lebih kompleks, mulai dari krisis iklim ekstrem, bencana
kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kemarau panjang yang melanda berbagai
wilayah, hingga dampak turunannya berupa kelangkaan bahan bakar minyak yang
menyulitkan mobilitas masyarakat.
Kondisi alam yang sedang tidak bersahabat ini menuntut peran aktif kaum
santri untuk hadir sebagai pelopor solusi, tidak hanya melalui doa dan zikir,
tetapi juga lewat kesadaran ekologis yang berlandaskan ajaran Islam.
Menatap Langit, Memohon Rahmat: Makna
Istisqa di Tengah Kemarau Panjang
Beberapa bulan terakhir, sebagian besar wilayah Indonesia merasakan dampak
dari musim kemarau panjang. Sumber air mulai menyusut, lahan pertanian terancam
gagal panen, dan kekeringan meluas di berbagai tempat. Di tengah situasi
tersebut, berbagai elemen umat Islam, termasuk lembaga pendidikan dan
pesantren, turut menggalakkan ikhtiar spiritual melalui pelaksanaan Salat
Istisqa (salat minta hujan) seraya memperbanyak istigfar dan taubat massal.
Langkah ini sejalan dengan tuntunan para ulama bahwa bencana kekeringan
dan kemarau ekstrem adalah pengingat bagi manusia untuk mengevaluasi diri atas
interaksi mereka terhadap alam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah
Ar-Rum ayat 41:
“ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ”
"Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat suci ini menegaskan bahwa ketidakseimbangan iklim, kemarau
berkepanjangan, hingga bencana alam kerap kali merupakan akumulasi dari ulah
manusia sendiri yang kurang bijak dalam mengelola bumi.
Karhutla dan Krisis Energi: Ketika
Ujian Datang Bertubi-tubi
Selain kemarau panjang, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
masih menjadi momok tahunan yang memperparah kondisi lingkungan. Asap pekat
tidak hanya merusak ekosistem dan mengancam kesehatan pernapasan warga, tetapi
juga melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi.
Lebih lanjut, dampak kekeringan dan gangguan distribusi logistik akibat
cuaca ekstrem serta krisis global turut memicu gelombang kekhawatiran terhadap
kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah. Ketika energi langka,
aktivitas ekonomi masyarakat bawah, seperti petani, nelayan, dan pelaku Usaha
Mikro Kecil Menengah (UMKM), langsung merasakan dampaknya secara langsung.
Dalam pandangan Islam, energi dan sumber daya alam adalah amanah yang
harus dikelola dengan prinsip keadilan, efisiensi, dan keberlanjutan.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar senantiasa berhemat dan tidak
melakukan pemborosan, bahkan dalam penggunaan air sekalipun. Sabda Nabi SAW
dalam sebuah hadis:
“عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ:
مَا هَسْرَفُ يَا سَعْدُ؟ قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ؟ قَالَ: نَعَمْ،
وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ”
"Dari
Abdullah bin Amr ra, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melewati Sa'ad yang
sedang berwudhu, lalu beliau bersabda: 'Pemborosan apa ini, wahai Sa'ad?' Sa'ad
bertanya: 'Apakah ada pemborosan dalam masalah air wudhu?' Beliau menjawab:
'Ya, meskipun kamu berada di atas sungai yang mengalir.'" (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini memberikan filosofi mendalam bahwa efisiensi dan kepedulian
terhadap ketersediaan sumber daya, termasuk energi dan BBM di tengah kelangkaan,
merupakan bagian dari akhlak Islam yang mulia.
Santri sebagai Pelopor Perubahan dan
Kepedulian Sosial
Momentum Hari Santri Nasional tahun ini harus dimanfaatkan untuk
meneguhkan kembali peran santri sebagai agent of change
(agen perubahan) di masyarakat. Santri tidak hanya piawai membaca kitab kuning,
tetapi juga peka terhadap persoalan sosial-lingkungan di sekitarnya.
Dalam menghadapi krisis kemarau, karhutla, dan tantangan ekonomi akibat
kelangkaan energi, kepedulian sosial (takaful ijtimai)
menjadi kunci utama. Tradisi berbagi, infaq, sedekah, serta aksi solidaritas
kemanusiaan yang digalakkan di berbagai pesantren dan lembaga keagamaan harus
diperluas untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak.
Pesantren-pesantren kini ditantang untuk melahirkan santri-santri yang
memiliki literasi ekologis tinggi—generasi yang memahami pentingnya menjaga
kelestarian lingkungan, tidak membakar lahan sembarangan, serta bijak dalam
mengonsumsi energi.
Hari Santri Nasional bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan
refleksi totalitas pengabdian kepada agama, bangsa, dan alam semesta. Di tengah
himpitan kemarau panjang, ancaman karhutla, dan bayang-bayang kelangkaan
energi, semangat kebersamaan para santri dan masyarakat luas harus terus
dihidupkan.
Dengan memadukan ikhtiar spiritual (doa, taubat, dan Salat Istisqa)
serta ikhtiar ikatan sosial-ekologis yang nyata, kita optimistis bahwa badai
krisis ini akan dapat dilalui dengan baik. Mari jadikan momentum Hari Santri
sebagai titik balik untuk merawat bumi, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan
peran umat Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).
Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
(Guru PAI SD Muhammadiyah 04 Kota Malang)
